Senin, 30 Juni 2014

Nebraska

Ada film-film yang muncul dengan begitu 'heboh'nya, mengemas cerita penuh tendensi, serta ditampilkan secara cukup hiperbolis. Namun sekali waktu, muncul juga film-film 'kecil' yang terkesan sederhana, menyampaikan cerita sederhana, ditampilkan secara sederhana, namun anehnya justru mampu meninggalkan kesan yang lebih mendalam dibandingkan film-film 'ribut' yang saya sebutkan sebelumnya. Salah satu sutradara yang (sepertinya) gemar membuat film-film bergaya seperti ini adalah Alexander Payne. Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan menonton Nebraska, sebuah road movie manis manis getir yang dikemas dalam balutan warna hitam putih yang kebetulan disutradarai oleh Alexander Payne.
Saya pertama mengenal Alexander Payne lewat About Schmidt, sebuah drama syahdu tentang seorang pria tua yang mencari arti kehidupan di usia senja. Lalu saya sempat juga menonton karya Payne lainnya, The Descendants, yang tak kalah syahdunya, lengkap dengan balutan musik khas Hawaii yang mendayu-dayu itu. Sayangnya, hingga saat ini, saya malah belum berkesempatan untuk menyaksikan Sideways yang digadang-gadang sebagai salah satu karya terbaik Payne.
Lewat Nebraska, Payne kembali bermain-main dengan tema-tema kegemarannya yaitu kehidupan di usia senja serta hubungan antar anggota keluarga. Secara garis besar, Nebraska mengangkat cerita tentang seorang pria tua bernama Woody Grant yang percaya bahwa dia baru saja memenangkan undian berhadiah uang tunai yang tidak sedikit jumlahnya. Woody tinggal di Billings, sementara untuk mendapatkan uang hadiah undian tersebut, dia harus mengunjungi sebuah kantor yang berada di Nebraska. Di lain pihak, Woody sudah jadi semacam agak pikun, layaknya orang berusia senja kebanyakan. Belum lagi ditambah dengan sejarah kecanduan alkohol yang pernah singgah dalam kehidupannya di masa lalu. Khawatir terjadi sesuatu terhadap Woody dalam perjalanannya, anak laki-lakinya yang bernama David Grant terpaksa menyetujui untuk mengantarkan ayahnya menuju Nebraska, meskipun sebelumnya David selalu mencoba menyadarkan ayahnya bahwa pergi ke Nebraska adalah suatu kesia-siaan belaka karena undian tersebut hanyalah semacam bentuk penipuan/scam. Maka dimulailah perjalanan kedua bapak anak tersebut dari Billings menuju Nebraska. Sepanjang perjalanan, layaknya road movie kebanyakan, ada banyak hal menarik yang terjadi pada keduanya yang pada akhirnya mampu mengubah sikap David pada ayahnya serta menguak berbagai kejutan seputar kehidupan Woody.   
Sepintas, Nebraska mengingatkan saya pada Le Grand Voyage atau Transamerica yang sama-sama mengangkat gaya road movie serta menampilkan cerita mengenai pasangan orang tua dan anak yang harus menghabiskan waktu bersama sepanjang perjalanan dari satu kota ke kota lainnya. Di Nebraska, akting serta chemistry antara Woody dan David sungguh memukau. Karakter Woody yang sedikit keras kepala sungguh serasi ketika dipadankan dengan karakter David yang terkadang terkesan 'ayo aja lah' dan sedikit pasrah dengan keadaan.
Dialog yang ditampilkan dalam Nebraska terkesan alami namun dapat betul-betul mengena pada beberapa bagian. Perhatikan saja dialog yang terjadi ketika David membantu ayahnya mencari gigi palsunya yang diduga terjatuh di sekitar rel kereta api. Sederhana, namun cukup mampu memancing terciptanya senyum tipis di wajah saya.
Dari segi visual, keputusan untuk mengemas Nebraska dalam betuk film hitam putih saya nilai cukup tepat. Meski tampil dalam kemasan hitam putih, Nebraska memiliki beberapa scene yang sangat puitis secara visual.
Alur film berjalan agak lambat dan mungkin akan berpotensi membosankan bagi beberapa orang. Namun bagi saya pribadi, meskipun film ini memiliki alur lambat serta hadir dalam format hitam putih, Nebraska saya nilai sangat jauh dari kesan membosankan. Justru film ini sangat mampu menarik saya tenggelam dalam cerita yang diracik dengan kesederhanaan yang sungguh manis serta memikat. Belum lagi ditambah dengan ilustrasi musik yang mendayu-dayu yang seolah-olah semakin memberi nyawa pada film secara keseluruhan.
Overall, Nebraska sekali lagi berhasil membuktikan kepiawaian Payne dalam menggodok tema sederhana menjadi suatu tontonan yang sangat layak untuk disimak. Beberapa awkward moment yang muncul sepanjang film pun terkesan alami dan tidak terlalu dipaksakan. Pada beberapa bagian, saya dibuat sedikit tertawa dengan situasi yang ditampilkan di Nebraska. Sedikit satir di sana, beberapa bagian manis di sini, serta sekelumit kesedihan di situ. Film dengan adonan yang cukup sempurna dengan gaya feel good sad movie ala Alexander Payne. Silahkan dapatkan filmnya di sini. 

Kamis, 26 Juni 2014

Snowpiercer

Saya pertama berkenalan dengan Bong Joon-ho lewat Memories of Murder, sebuah drama/thriller dengan plot serta gaya penyajian yang sangat memukau. Saya juga berkesempatan menonton Mother, karya lain dari sang sutradara yang juga tidak kalah intensnya dengan Memories of Murder. Ketika mengetahui bahwa Bong Joon-ho akan menyutradarai Snowpiercer, film pertamanya dengan menggunakan bintang Hollywood, saya menjadi sedikit penasaran akan seperti apa hasilnya nanti. Tadi siang akhirnya saya berkesempatan menonton film ini dan kesan yang saya dapatkan adalah Snowpiercer merupakan karya yang cukup menakjubkan secara garis besar.
Cerita dalam film ini diangkat dari sebuah grafik novel. Berbeda dengan Memories atau Mother yang berkutat seputar kasus kriminal, Snowpiercer tampil dalam balutan tema sci-fi/dystopian yang cukup kental. Perbedaan lain yang cukup mendasar adalah pada Memories atau Mother pendekatan yang digunakan bergaya realis dan cenderung menitikberatkan pada psikologi karakter, sementara pada Snowpiercer, cerita ditampilkan dengan nuansa metafora yang cukup kuat serta sedikit agak bergaya surealis.
Secara garis besar, Snowpiercer menceritakan tentang kondisi bumi di masa depan yang sudah tidak dapat lagi dihuni oleh manusia (dan mungkin makhluk hidup lain) dikarenakan menurunnya suhu udara secara drastis akibat sebuah eksperimen untuk menanggulangi masalah pemanasan global. Eksperimen tersebut mengubah permukaan bumi menjadi hamparan salju dengan suhu dingin yang cukup ekstrim. Manusia dari berbagai belahan bumi yang berhasil bertahan hidup dari 'bencana' tersebut dikumpulkan dalam sebuah kereta api bernama Snowpiercer yang berjalan mengelilingi bumi tanpa henti. Kehidupan di dalam kereta api tersebut juga digambarkan secara cukup ekstrim dimana rangkaian gerbong bagian belakang dihuni oleh masyarakat kelas bawah, sementara rangkaian gerbong bagian depan dihuni oleh masyarakat kelas atas yang dipimpin oleh Wilford, sang pencipta kereta api yang tinggal di ruang mesin atau lokomotif.
Masyarakat kelas atas memimpin dengan gaya totalitarian dan hidup dalam kemewahan. Sementara itu, masyarakat kelas bawah hidup layaknya sampah, serba kekurangan dan di bawah tekanan. Akhirnya, masyarakat kelas bawah mulai merencanakan semacam serangan balik terhadap masyarakat kelas atas. Dipimpin oleh Curtis, mereka mulai menyusun strategi untuk mencapai rangkaian gerbong bagian depan dengan tujuan untuk menumbangkan kekuasaan masyarakat kelas atas. Untuk menjalankan aksinya, Curtis dibantu oleh Namgoong Minsoo, seorang spesialis keamanan yang diyakini Curtis sebagai perancang semua sistem kunci pada semua pintu di gerbong kereta.
Plot Snowpiercer mungkin akan terlihat sedikit lemah pada beberapa bagian (terutama yang menyangkut hal-hal berbau teknis), layaknya film-film bertema sci-fi kebanyakan. Meski demikian, bila dilihat secara keseluruhan, Snowpiercer sesungguhnya menyajikan metafora yang cukup brilian dalam plotnya. Mengusung semangat 1984 atau V for Vendetta, Snowpiercer berusaha untuk mempertanyakan kembali posisi manusia dalam kehidupan, tentang fungsi manusia dalam masyarakat, serta tentang tanggung jawab moral yang harus diemban manusia dalam pengulangan atau penciptaan sejarah. Film ini juga sedikit banyak mengingatkan saya akan The Matrix, terutama tentang konsep keseimbangan dalam suatu tatanan masyarakat/sosial.
Dari segi visual serta artistik, Snowpiercer saya nilai tidak mengecewakan. Beberapa scene bahkan menyajikan tampilan visual yang terlihat sangat mengagumkan dengan detail yang sempurna pada sisi artistiknya. Sektor score juga saya nilai cukup memuaskan meski tak bisa dibilang terlalu istimewa. Overall, sisi teknis saya nilai cukup baik dalam menunjang plot secara keseluruhan.
Kredit terbesar mungkin layak saya berikan pada Tilda Swinton yang memerankan karakter bernama Mason, tangan kanan Wilford. Karakter serta tampilan fisik Mason yang cukup unik serta agak komikal mampu menjadi pusat perhatian pada beberapa scene. Belum lagi dengan ekspresi wajah serta gaya bicaranya yang sangat hiperbola. Wajah Tilda pun dipermak cukup sempurna hingga saya sempat tidak percaya bahwa apa yang sedang saya lihat adalah seorang Tilda Swinton. Momen terbaik karakter Mason adalah ketika wanita tersebut memberikan semacam 'wejangan' pada masyarakat kelas bawah sambil memegang sepatu.
Snowpiercer mungkin bukan karya terbaik Bong Joon-ho. Film ini mungkin belum bisa mengungguli atau bahkan sekedar menyamai Memories of Murder yang saya anggap sebagai karya terbaik Bong Joon-ho sejauh ini. Film ini juga mungkin dianggap sebagian orang kurang layak mendapatkan predikat sebagai salah satu film bertema sci-fi/dystopian terbaik. Meski demikian, Snowpiercer saya nilai tidak terlalu mengecewakan. Cukup menyenangkan untuk disimak dan memiliki beberapa detail yang cukup sempurna baik pada sisi plot, karakter, maupun tampilan visual. Silahkan dapatkan filmnya di sini.      
          

Sabtu, 14 Juni 2014

Polisse

Kasus kriminal atau kejahatan pada anak-anak di bawah umur. Kalimat ini saya rasa sudah cukup menjadi alasan kuat untuk menonton Polisse, sebuah film yang mengangkat tentang sepak terjang sebuah divisi khusus di kepolisian yang mengurusi semua kasus yang berhubungan dengan anak-anak di bawah umur mulai dari tindak kekerasan terhadap anak-anak di bawah umur hingga eksploitasi seksual yang melibatkan anak-anak di bawah umur atau remaja. Divisi ini terdiri dari beberapa orang polisi dengan karakter berbeda-beda. Beberapa orang dari mereka adalah wanita. Lalu ada juga seorang jurnalis wanita yang ditugaskan oleh pemerintah untuk meliput serta mendokumentasikan kerja divisi ini. Bayangkan [REC], lalu ganti petugas pemadam kebakaran dengan personil divisi ini dan ganti 'zombie' dengan pelaku kejahatan, ganti juga adegan sadis menegangkan berlumuran darah dengan dialog-dialog yang mencengangkan, memerihkan hati dan perasaan. Kalian akan mendapatkan Polisse, film drama dengan alur serta intensitas cerita yang sungguh kuat.
Cerita dibuka dengan adegan interogasi. Seorang polisi wanita berusaha menggali keterangan dari seorang anak perempuan yang diduga mengalami tindak pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang tuanya. Adegan awal ini saja sudah mampu menciptakan sayatan di hati. Suasana yang tenang serta ekspresi anak perempuan tersebut saat menceritakan apa yang pernah dialaminya akan membuat kalian menghela napas panjang. Sederhana dan sangat mengena. Adegan awal ini saya nilai cukup berhasil membangun atmosfir cerita secara keseluruhan. Semacam peringatan bahwa film yang akan kalian lihat bakal penuh berisi dengan hal-hal getir yang mengejutkan sekaligus menyedihkan.
Semua kasus yang ditampilkan di film ini didasarkan pada kasus nyata yang benar-benar pernah terjadi. Meski demikian, film ini tidak berfokus pada kasus tertentu saja, melainkan lebih ke pada bagaimana anggota divisi tersebut menghadapi pekerjaan mereka serta efek pekerjaan terhadap kehidupan pribadi dan kondisi psikologis mereka.
Fokus cerita lainnya adalah tentang Melissa, sang jurnalis wanita yang mulai menyimpan perasaan pada salah satu anggota divisi. Keterlibatan Melissa dalam divisi tersebut, mau tak mau mulai mempengaruhi objektivitasnya sebagai 'pihak luar'. Tentu saja. Siapa yang tak akan terlibat emosinya jika setiap hari harus berhadapan dengan anak-anak korban pelecehan seksual? Ketika Melissa mulai melibatkan perasaan dalam tugasnya, hal itu tentu merupakan sesuatu yang cukup wajar, meskipun seharusnya, idealnya, hal tersebut tidak semestinya terjadi.
Bahkan anggota divisi yang sudah demikian terlatih, pada satu titik bisa menjadi meledak ketika dihadapkan dengan pilihan antara 'yang seharusnya dilakukan' dan 'yang bisa dan boleh dilakukan'. Dalam bidang profesi seperti ini, terlalu melibatkan perasaan serta emosi bukanlah hal yang baik bagi profesionalisme. Ada aturan yang tetap harus diikuti meski terkadang hati berteriak bahwa 'ini tidak benar!'. Hal ini tergambarkan dengan cukup baik pada beberapa bagian cerita. 
Polisse ditampilkan dengan menggunakan gaya dokumenter yang mana sangat efektif dalam memupuk rasa perih yang ditebarkan di berbagai penggalan cerita melalui kesan nyata yang ditimbulkan. Film ini seperti Short Term 12, hanya dengan kadar getir yang mungkin lebih tinggi. Adegan penutup pun sangat dramatis dan mampu membuat napas saya tercekat. Beberapa bagian cerita mungkin bisa membuat kalian geram. Film yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kalian bisa mendapatkan filmnya di sini.  
    

Selasa, 27 Mei 2014

You're Next

Saya mulai (agak) mengurangi menonton film horror/thriller/slasher/gore semenjak franchise Saw mulai agak mengalami semacam disorientasi. Padahal, dulu saya cukup menyukai sub-genre horror yang satu ini. Meski demikian, pasca Saw XIV yang 'nggak jelas banget maunya apa' itu, saya masih berkesempatan menonton beberapa film horror/slasher/gore/whatever yang cukup layak diapresiasi, tidak hanya sekedar mengumbar berliter-liter darah artifisial dan luka-luka yang menganga (meskipun sesungguhnya justru elemen-elemen inilah yang dicari pada film-film bergenre demikian). A Serbian Film contohnya. Kemudian muncul juga sebuah sub-genre 'baru' yang dikenal dengan nama Mumblegore, sub-genre yang digadang-gadang mampu mengembalikan thriller/gore/slasher ke fitrahnya. You're Next adalah salah satu film yang mendapat kehormatan untuk menyandang predikat sub-genre 'baru' ini.
Secara garis besar, plot You're Next sesungguhnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Meski demikian, saya cukup bersyukur karena film ini bukanlah film bertema found-footage yang tampaknya jadi semakin hambar akhir-akhir ini. Diceritaken dalam You're Next, sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan empat orang anaknya (yang sudah dewasa) merencanakan untuk menghabiskan malam bersama di sebuah rumah peristirahatan yang terletak di daerah yang cukup terpencil dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan pasangan tersebut. Keempat orang anak itu membawa pasangan mereka masing-masing sehingga total ada 10 orang yang berada di rumah peristirahatan tersebut. Ketegangan dimulai saat acara makan malam, dimana terjadi suatu insiden penyerangan yang mengubah suasana menjadi cukup mencekam. Merasa keselamatan mereka terancam, penghuni rumah peristirahatan tersebut mulai memikirkan bagaimana caranya untuk meminta pertolongan ke luar atau bahkan untuk sekadar bertahan hidup. Tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Belum lagi ditambah beberapa kejutan yang muncul kemudian.    
Sebagai film bertema survival horror, You're Next sudah memenuhi beberapa standar dasar film horror dengan tema ini, set terbatas, karakter berjumlah lebih dari dua atau tiga orang yang harus bertahan hidup, musuh yang tak diduga, serta kebangkitan salah satu tokoh utama sebagai 'juru selamat'. Motif yang mendasari plot juga cukup dapat diterima, meski sebenarnya cukup terasa klise, namun bisa diolah dengan baik. Intensitas cerita dapat terjaga sempurna dari awal hingga akhir film. Pengembangan plot cukup mulus tanpa terkesan terlalu dipaksakan. Tentu saja masih ada beberapa celah yang mungkin sedikit mengganggu, namun bukan menjadi suatu masalah besar. Cerita masih tetap bisa dinikmati tanpa perlu merasa (terlalu) dibodohi.  
Dari sisi teknis, You're Next tidak jauh banyak berbeda dengan film-film horror generasi baru yang cukup populer akhir-akhir ini. Pemilihan warna, pergerakan kamera, serta komposisi gambar, kesemuanya mengamini pakem-pakem yang berkembang di genre horror belakangan ini. Begitu juga pemilihan ilutrasi musik yang saya nilai cukup brilian. Ya, salah satu kekuatan You're Next adalah ilustrasi musiknya yang mengacu ke gaya ilustrasi musik horror era 70an dan 80an.
Pada akhirnya, You're Next menjadi salah satu film thriller mencekam yang cukup layak untuk dinikmati. Semacam Home Alone untuk penonton dewasa yang 'haus darah'. Menyenangkan. Jika kalian sempat menyukai The Strangers, I Spit on Your Grave, atau bahkan Scream yang fenomenal itu, You're Next cukup pantas untuk kalian tonton. Silahkan dapatkan filmnya di sini.  

Rabu, 21 Mei 2014

Take Shelter

Jika tidak salah ingat, semasa kecil dulu saya pernah mendengar semacam dongeng(?) yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang selalu meneriakkan bahwa akan datang sebuah badai besar yang akan menghancurkan seisi desa. Sayangnya, tidak ada satupun penduduk desa yang mempercayai perkataan laki-laki tersebut. Hingga akhirnya badai besar itu benar-benar datang dan benar-benar menghancurkan desa tersebut dan semua orang mati kecuali laki-laki tersebut yang berhasil berlindung di ruang bawah tanah yang dibuatnya di belakang rumahnya. Saat menonton sepertiga awal Take Shelter, dongeng itulah yang muncul pertama kali dalam pikiran saya. Dan saya dengan gegabahnya menganggap bahwa film ini hanyalah sekedar interpretasi bebas dari dongeng tersebut, tentang seorang laki-laki yang percaya bahwa badai besar akan datang namun tak seorangpun yang mempercayai apa yang dipercaya oleh laki-laki tersebut. Ternyata saya salah. Take Shelter ternyata lebih dari sekedar apa yang saya pikirkan pada awalnya.
Tokoh utama dalam Take Shelter adalah seorang pria bernama Curtis. Curtis memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Sepintas, Curtis tidak ada bedanya dengan pria kebanyakan. Dia bekerja untuk keluarga kecilnya dan sangat mencintai istri serta anak satu-satunya. Namun di balik semua itu, Curtis ternyata memendam suatu masalah yang cukup pelik. Curtis sering mengalami mimpi buruk dimana dia melihat datangnya badai besar, badai yang aneh yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Semacam pertanda. Atau 'wahyu'. Dan mimpi buruk Curtis mulai mempengaruhi kestabilan mentalnya, kehidupan pribadinya, kehidupan sosialnya, serta berpotensi mengancam keutuhan rumah tangganya. Seiring dengan berjalannya cerita, mimpi buruk Curtis mulai mengalami semacam 'modifikasi'. Perilaku Curtis juga mulai berubah. Menyadari masalah yang dihadapinya, Curtis berusaha untuk menemukan solusi terbaik. Dia mencari berbagai informasi mengenai gangguan mental serta berkonsultasi ke psikiater. Di sisi lain, Curtis masih mempercayai mimpinya. Dia mulai membangun bunker sebagai tempat perlindungan bagi keluarganya dari badai besar yang dilihatnya di dalam mimpi buruknya. Apakah badai besar itu benar-benar akan datang? Mampukah Curtis mengatasi masalah yang dihadapinya dan menyelamatkan keluarga kecilnya? Lebih jauh lagi, mampukah Curtis 'menyelamatkan' diri dari dirinya sendiri?
Take Shelter mengupas tentang rasa takut. Fokus utama film ini sesungguhnya bukanlah mengenai badai besar yang ditakuti oleh Curtis melainkan rasa takut itu sendiri. Bagaimana rasa takut itu bisa mengubah kehidupan seseorang dan juga kehidupan orang-orang di sekitar seseorang tersebut. Tempo film sangat lambat dan dibangun dengan seksama. Butuh kesabaran ekstra untuk benar-benar bisa 'menikmati' film ini. Meski demikian, saya rasa tempo lambat ini cukup berhasil dalam memperkuat intensitas cerita. Akting sangat layak mendapat pujian, terutama untuk karakter Curtis dan istrinya. Dari segi artistik, sinematografi film ini cukup memukau untuk ukuran film dengan budget relatif terbatas. Demikian juga dengan pemilihan musik latar yang sanggup membangun atmosfir kelam mencekam di beberapa bagian. Take Shelter saya rekomendasikan untuk kalian yang menyukai film dengan karakter yang kuat serta pengembangan cerita yang digarap secara matang. Sekali lagi, film ini memiliki tempo yang sangat lambat dan berpotensi membosankan. Namun demikian, saya pribadi menyatakan bahwa film ini sangat sangat sangat sayang untuk dilewatkan. Pilihan ada di tangan kalian. Saya mau bikin kopi dulu. Sementara itu, kalian bisa mendapatkan film ini di sini.       

Kamis, 15 Mei 2014

Fuck

Dokumenter. Di satu sisi, genre ini bisa jadi sangat serius, penuh tendensi, serta mengangkat isu 'berat' yang 'meresahkan' masyarakat. Pemanasan global, krisis bahan bakar, masalah sampah, serta pembantaian lumba-lumba, adalah beberapa contoh tema dokumenter dengan konten serta pembahasan yang cukup membuat depresi. Di sisi lain, dokumenter bisa tampil dengan kesan 'main-main' yang cukup kental, meski pokok bahasan tetap saja merupakan sesuatu yang (mungkin saja) serius. Dokumenter berjudul Fuck ini masuk ke dalam kategori kedua tersebut.
Fuck. Dokumenter ini merupakan salah satu dokumenter favorit saya sejauh ini. Saya pernah melihat/membaca bahwa kata ini merupakan kata yang istimewa dalam Bahasa Inggris. Kata 'fuck' bisa digunakan untuk menggambarkan berbagai ekspresi mulai dari rasa sakit, amarah, rasa senang, bahkan hingga kesedihan. Kata 'fuck' juga bisa menyandang berbagai fungsi dalam kalimat mulai dari kata kerja, kata benda, kata seru, kata keterangan, bahkan hingga kata sambung. Lalu sebenarnya seberapa besar peranan kata ini dalam membangun (so-called) kebudayaan modern? Apa yang membuat kata 'fuck' menjadi begitu dicintai sekaligus dibenci? Mengapa beberapa orang bisa begitu sering menggunakan kata ini sementara beberapa lainnya justru mati-matian menghindari penggunaan kata ini? Semuanya diangkat dalam film dokumenter yang 'jujur' ini. Sebuah dokumenter yang membahas mengenai segala 'mitos' serta 'kontroversi' seputar asal-usul kata 'fuck', penggunaannya, serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Ada banyak tokoh 'besar' serta orang-orang dari berbagai bidang profesi yang diwawancarai seputar kata 'fuck' di dokumenter ini. Beberapa memberikan respon yang cukup serius, sementara beberapa lainnya memberikan respon yang mungkin bisa membuat kalian tertawa. Sejauh ini, Fuck mungkin tetap menjadi satu-satunya dokumenter yang benar-benar mengupas kata ini secara menarik, tidak membosankan, namun tetap informatif, walau sebenarnya masih banyak yang bisa lebih dieksplor lagi.
Terlepas dari isinya yang memang sangat menggugah selera, Fuck juga dikemas secara apik baik dari segi visual, editing, maupun audio. Dokumenter yang mungkin bisa mengubah persepsi sebagian orang yang menganggap genre ini sebagai genre yang membosankan, penuh data statistik, dan istilah-istilah keilmuan yang kurang 'merakyat'. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.       

Senin, 12 Mei 2014

Caramel

Hingga saat ini, saya belum terlalu banyak menonton film Libanon. Beruntunglah saya bisa berkesempatan untuk menonton film ini sekitar empat atau lima tahun yang lalu, saya lupa tepatnya kapan. Namun saya masih ingat bagaimana film ini berhasil meninggalkan kesan yang mendalam, bagaimana sehabis menonton film ini saya terdiam cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk memacu motor ke warung nasi padang terdekat.
Persahabatan enam orang perempuan Libanon digarap secara apik dalam Caramel. Premis yang sepintas terlihat cukup sederhana dan berpotensi terjebak dalam klise yang membosankan. Tapi tunggu dulu, wahai qi sanaque. Di tangan Nadine Labaki, tema yang sederhana ini bisa dipoles menjadi sebuah tontonan yang sangat memikat dan layak untuk dinikmati, tidak hanya oleh kaum perempuan, namun juga oleh kaum laki-laki.
Tokoh utama di Caramel adalah seorang perempuan bernama Layale, yang juga diperankan dengan sangat manis oleh sang sutradara. Layale bekerja di sebuah salon kecantikan bersama tiga orang sahabatnya, Nisrine, Jamale, dan Rima. Lalu ada pula Rose dan Lili. Film ini mengangkat keseharian enam orang perempuan tersebut beserta seluruh problematika yang mereka hadapi masing-masing. Sebagian besar latar cerita mengambil lokasi salon kecantikan tempat mereka bekerja. Masing-masing karakter memiliki karakteristik serta 'permasalahan' yang berbeda-beda yang menjadi 'perekat' hubungan antara keenam perempuan tersebut. Caramel berkutat seputar percintaan, pernikahan, dan identitas diri sebagai seorang perempuan yang diolah dengan pendekatan yang cukup kompleks namun masih cukup nyaman untuk diikuti. 
Secara teknis, Caramel dikemas dalam tampilan visual yang sederhana namun kaya rasa. Komposisi gambar, pemilihan warna, serta pencahayaan saya nilai cukup berhasil menggambarkan nuansa cerita secara keseluruhan. Nyawa film juga didukung dengan ilustrasi musik yang menarik. Akting cukup layak diapresiasi, terutama untuk karakter dengan 'permasalahan' yang cukup 'unik'. Dialog ditampilkan secara natural, tidak terkesan terlalu didramatisir, namun justru mampu memberikan makna yang jauh lebih kuat.
Pemilihan kata karamel sebagai judul juga saya anggap sebagai suatu keputusan yang cukup brilian. Di film ini, karamel digunakan sebagai bahan untuk melakukan waxing. Karamel itu manis, namun bila dipanaskan terlalu lama bisa menjadi pahit. Karamel bisa digunakan sebagai perekat dan akan mengeras bila dibiarkan terlalu lama. Sesuatu yang sangat tepat untuk digunakan dalam menggambarkan premis film secara keseluruhan. Caramel adalah film yang seksi tanpa harus (terlalu) mengorbankan diri menjadi sebuah komoditi. Sekitar empat hari sehabis menonton film ini, seorang teman pernah bertanya kepada saya tentang pendapat saya mengenai film ini. Waktu itu saya memberikan jawaban seperti ini, "Caramel adalah jawaban sineas Libanon atas 'dangkal'nya Sex and the City."
Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.