Jumat, 28 November 2014

Michael



Sepanjang perjalanan saya menonton, setidaknya ada dua cara yang biasa digunakan untuk menggambarkan kengerian lewat media film. Pertama, secara eksplisit. Kebrutalan dan adegan-adegan sadis ditampilkan sedemikian rupa untuk menggugah rasa takut di benak penonton. Lalu ada pula film-film yang berusaha menampilkan kengerian dengan cara yang lebih ‘sopan’, minim kekerasan, dan membiarkan imajinasi penonton yang bekerja membangun sulur-sulur kecemasan di otak. 

Michael jatuh pada kategori kedua.

Premis film ini sederhana saja. Tokoh utama, yang kebetulan juga antagonis, adalah seorang pria bernama Michael. Sepintas Michael terlihat seperti pria pada umumnya. Karirnya sebagai karyawan di sebuah perusahaan asuransi tampak cukup gemilang. Penampilannya juga tak bisa dibilang jelek, meski tak terlalu tepat pula bila disebut menarik. pria biasa-biasa saja. Dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.

Michael tinggal sendirian di rumahnya. Sejak menit-menit awal film, kesan kesepian sudah dengan sengaja disematkan pada karakter ini. Tapi itu bukanlah suatu masalah. Pria kesepian tentu ada banyak sekali jumlahnya di luar sana. Pertanyaan mulai muncul ketika adegan Michael membuka pintu basement rumahnya. Pintu itu dilapisi busa yang berfungsi sebagai peredam suara. Ah, tapi ini juga tidak terlalu aneh. Beberapa orang mungkin juga melakukan hal yang sama pada pintu basement rumah mereka. Adegan dilanjutkan dengan Michael yang sedang sibuk menyiapkan meja makan. Sepertinya dia akan makan malam dengan seseorang. Kekasihnya, mungkin? Adegan lalu bergulir memperlihatkan Michael yang kembali turun ke basement. Kali ini dia membuka sebuah pintu yang terlihat memiliki pengaman ekstra. Pintu terbuka dan memperlihatkan ruang yang gelap di baliknya. Dari kegelapan, muncullah sesosok anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Siapa anak ini? mengapa dia berada di basement? 

Michael adalah seorang pedofil. Dia juga seorang sosiopat. Dan anak laki-laki yang disekapnya di basement adalah sarana pelampiasan hasrat seksualnya. 

Sudah. Premisnya cuma begitu saja. Sederhana sekali. Tapi film ini tidak sesederhana kelihatannya. Ada begitu banyak detail yang membuat film ini menjadi sangat kuat. Fokus utama film tentu saja adalah Michael sendiri. Pemilihan aktor yang memerankan karakter ini saya nilai sungguh tepat. Ekspresi wajah, gestur, serta intonasi bicara sang aktor berhasil menghidupkan karakter Michael secara sempurna. Sepanjang film, kalian akan disuguhkan beberapa detail menarik mengenai Michael. Tentang bagaimana dia terkadang bisa menjadi sangat otoriter pada hal-hal remeh. Tentang bagaimana dia dengan mudahnya mengabaikan rekan kerjanya yang berbagi meja dengannya ketika menyantap makan siang. Tentang betapa impulsifnya dia saat mencoba menggali lubang di tengah hutan hanya lantaran ‘anak asuh’nya terserang demam. Dan masih banyak lagi. Film ini tentang Michael, seorang pria dengan perhatian yang sangat besar pada detail, sangat terorganisir, dan sangat ‘penyabar’. 

Lalu bagaimana dengan anak laki-laki yang ‘diasuh’ oleh Michael? Jika kalian membayangkan bahwa kamar di mana anak tersebut disekap sebagai sebuah kamar yang kotor, pengap, dan menyerupai kandang babi, kalian mungkin akan sedikit kecewa. Kamar itu bersih. Perabotannya lengkap. Anak itu bahkan memiliki crayon dan buku-buku di kamarnya. Michael, terlepas dari penyimpangannya, benar-benar mengurus anak itu secara layak. Anak itu aset bagi Michael. Dan dia sadar betul bahwa dia harus menjaga asetnya sebaik mungkin. 

Penonton kemudian tiba pada suatu kenyataan yang cukup mengerikan, mematahkan hati, sekaligus membuat geram. Interaksi antara Michael dan anak laki-laki itu menjadi kian kompleks. Di satu sisi, anak laki-laki tersebut menjadi objek seksual bagi Michael. Namun di sisi lain, anak tersebut ternyata mulai menganggap Michael sebagai figur orang tua. Kedekatan yang berjarak ini sangat mengganggu. Sekali lagi, sangat menggangu.    

Film ini ditampilkan dengan gaya minimalis. Plot berjalan cukup lamban. Nuansa dingin dan terisolasi berhasil dibangun secara efektif melalui pergerakan kamera yang minim, nyaris stagnan. Hal ini semakin diperkuat dengan minimnya ilustrasi musik yang digunakan sepanjang film. Sutradara mengajak penonton untuk mengikuti keseharian Michael yang cenderung membosankan namun sekaligus dipenuhi dengan detail-detail yang sungguh menarik untuk disimak dalam rangka memahami karakter ini. Di satu sisi, sutaradara berusaha menyuguhkan karakter Michael sedekat mungkin kepada penonton. Di sisi lain, sutradara secara bersamaan juga berusaha untuk menjaga jarak antara karakter Michael dengan penonton. Sutradara seolah-olah ingin menyampaikan, hei, kenalin, ini Michael. Kalian harus mengenal dia lebih dekat. Tapi jangan terlalu dekat, kalian mungkin tidak akan menyukai apa yang kalian temukan nantinya. Sekali lagi, kedekatan yang berjarak. 

Seperti itu kira-kira. 

Yang membuat film ini jadi mengerikan justru adalah detail-detail yang tidak ditampilkan di layar. Tidak ada adegan yang mengumbar kekerasan fisik secara langsung pada sang anak, termasuk pencabulan. Tapi penonton tahu betul apa yang sebenarnya terjadi. Bila ingin dianalogikan, ketakutan yang dimunculkan lewat film ini mungkin sama dengan rasa takut yang kalian rasakan ketika mendengar lolongan anjing di tengah malam. Lolongan anjing itu mungkin aslinya biasa saja. Namun mengetahui mitos (atau fakta?) bahwa lolongan itu merupakan pertanda kehadiran makhluk halus, hal itulah yang memupuk rasa takut. Michael berusaha menunjukkan monster mengerikan apa yang bersembunyi di balik kehidupan seorang pria yang terlihat begitu normal. Dan hal itu berhasil. Sangat berhasil.      

Mengingat kemasan film yang sangat minimalis dan berpotensi membosankan, saya sarankan kalian menonton film ini ketika benar-benar sedang berada dalam kondisi yang mendukung. Ending film ini sendiri ditampilkan secara sangat menarik menurut saya. Michael adalah film yang cukup ‘mengganggu’ yang digarap dengan begitu piawai dan mungkin bisa membuka diskusi yang menarik sesudahnya. Ingin mengenal Michael lebih jauh? Silakan dapatkan filmnya di sini.   

Selasa, 21 Oktober 2014

Fright Pack

Hai. Halo. Jumpa lagi dengan saya. Ok. Langsung saja. Review kali ini tampil agak sedikit berbeda dari review-review sebelumnya. Biasanya, saya hanya membahas satu judul film saja. Namun kali ini, menyambut datangnya perayaan Halloween, saya akan membahas, tidak hanya satu, tidak dua, namun enam judul film sekaligus! (kalimat ini terdengar sounds like iklan produk panci multifungsi, ya. Ya sudahlah). Sebetulnya, agak sulit bagi saya untuk merekomendasikan film horror apa saja yang layak untuk kalian tonton pada kesempatan Halloween tahun ini. Namun setelah mengingat-ingat dari sekian sedikit judul film horror yang pernah saya tonton beberapa tahun belakangan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih keenam judul berikut sebagai film horror yang saya rekomendasikan untuk Halloween tahun ini. Daftar ini tidak berupa urutan. Jadi, satu film tidak berarti lebih baik ketimbang film yang lain. Ya sudah. Tanpa berbasa basi lagi. Inilah…

1. The Innkeepers

Salah satu tema yang boleh dikatakan cukup ‘usang’ dalam genre horror adalah tempat angker atau haunted place. Meski tema ini sudah sangat klise, The Innkeepers mampu mengolah tema ini menjadi suatu sajian horror yang tidak hanya lebih menarik, namun juga sangat brilian. Saya masih ingat bagaimana saya baru menyadari cerdasnya plot film ini setelah menonton film ini untuk kedua kalinya. Secara umum, cerita di The innkeepers berpusat pada dua orang penjaga penginapan. Penginapan ini dikenal akan sejarah serta reputasinya sebagai penginapan yang angker. Menit-menit awal kalian mungkin akan mengira bahwa film ini hanyalah film horror tentang haunted place yang standar, sama seperti halnya dengan saya. Yeah, right. Haunted place. What so special ‘bout it, eh? Paling juga tentang kejadian-kejadian aneh, roh penasaran, dsb, dsb, right? Akan tetapi qi sanaque, ternyata cerita bergulir semakin intens dan diakhiri dengan ending yang sangat memukau. The Innkeepers memang film horror ‘kecil’. Cenderung minimalis. Namun kekuatan terbesar film ini ada pada plotnya. Tentang bagaimana menampilkan suatu tema yang sudah terlalu biasa dengan menggunakan kemungkinan yang jauh lebih plausible. Film ini tidak hanya berfokus pada rasa takut, namun lebih menyoroti efek dari rasa takut tersebut. Dan semuanya jadi masuk akal setelahnya, yang mana hal ini bagi saya justru lebih menakutkan. Suatu nilai lebih yang mungkin tidak kalian temukan di film horror lain dengan tema serupa. Jika kalian mencari film horror bertema haunted place namun dengan detail yang sangat rapi, The Innkeepers sangat saya rekomendasikan. Dapatkan filmnya di sini.

2. Ils a.k.a Them

Tema home invasion juga menjadi salah satu tema favorit saya untuk genre horror. Dari Perancis, ada Ils atau yang juga dikenal dengan judul Them. secara garis besar, Ils memiliki plot yang tidak jauh berbeda dengan plot film horror/thriller bertema home invasion lain yang juga menjadi favorit saya, The Strangers. Bila kalian menggemari tema home invasion, Ils punya segalanya. Plot yang intens, momen-momen menegangkan, hingga ending yang mungkin sedikit mengejutkan. Film ini memang mengangkat tema ‘basi’ untuk genre horror, namun dikemas dengan sangat baik. Sinematografi serta ilustrasi musik latar yang digunakan mampu membangun atmosfir mencekam sepanjang film dengan sangat efektif. Penokohan yang natural menjadikan film ini semakin beliveable dan mencekam. Durasi filmpun dipangkas dengan tepat. Alur memang agak sedikit lambat di bagian awal, namun langsung menanjak menjadi marathon adrenalin penuh kengerian pada bagian-bagian berikutnya. Beberapa bagian hadir dengan elemen kejutan yang cukup ampuh untuk membuat tangan anda mencengkeram bantal sedikit lebih keras atau bahkan mengumpat tertahan. Silakan dapatkan filmnya di sini.

3. Lake Mungo

Film horror ‘kecil’ bergaya mockumentary dari Australia. Dalam Lake Mungo, kalian akan diajak menyelami berbagai kejadian supranatural yang muncul di seputar sebuah keluarga yang sedang berada dalam masa berkabung. Plot film ini cukup sederhana. Seorang remaja perempuan tewas tenggelam dan keluarganya merasa sangat kehilangan. Rasa kehilangan yang sangat mendalam ini kemudian disusul dengan munculnya berbagai kejadian yang tak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Keluarga inipun kemudian meminta bantuan seorang paranormal. Melalui investigasi, ditemukan fakta mengejutkan tentang remaja perempuan yang tewas tersebut. Lake Mungo menggabungkan elemen misteri dan supranatural secara tepat. Meskipun ditampilkan dengan menggunakan gaya mockumentary, percayalah, Lake Mungo jauh lebih bagus ketimbang Paranormal Activity bersaudara yang kian membosankan itu. Gaya mockumentary pada film ini digunakan dengan bijaksana sehingga mampu memperkuat plot dan atmosfir film secara optimal. Hal lain yang menarik dari Lake Mungo adalah closing creditnya. Salah satu closing credit terbaik untuk genre horror yang pernah saya lihat sejauh ini. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.

4. Triangle

Bukan. Ini bukan film horror tentang obsesi kaum hipster terhadap bentuk geometri segitiga. Triangle adalah film horror/thriller dari Inggris dengan bumbu misteri yang cukup kental serta twisty. Film ini menceritakan tentang sekelompok orang yang pergi berlibur dengan menggunakan yacht. Tiba-tiba, di tengah laut muncul badai misterius yang mendamparkan yacht yang mereka tumpangi di dekat sebuah kapal pesiar. Merekapun naik ke kapal pesiar tersebut dan kejadian-kejadian anehpun mulai bermunculan. Sekilas, Triangle mungkin terlihat seperti film horror biasa dengan setting kapal berhantu. Meski demikian, seiring bergulirnya cerita, muncul berbagai detail menarik yang akan menggiring kalian ke ending yang cukup mengejutkan. Plot bergulir dengan cukup intens. Ada berbagai kejutan baru yang muncul seiring berjalannya film yang berpuncak pada ending yang cukup 'holy shit!'. Triangle memadukan unsur kengerian thriller dan misteri penuh twist dengan sangat piawai. Bosan dengan film horror/thriller bertema kapal berhantu biasa? Triangle bisa jadi alternatif tontonan di Halloween tahun ini. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.

5. Trick ‘r Treat

Jika kalian mencari film horror dengan kemasan multiplot, Trick ‘r Treat bisa menjadi pilihan yang layak untuk dipertimbangkan. Di film ini, ada lima cerita yang terpisah namun juga saling berhubungan yang menggunakan elemen-elemen horror yang sudah tak asing lagi, mulai dari psikopat, urban legend, bahkan hingga makhluk-makhluk mitos mengerikan. Film ini tidak hanya menampilkan elemen horror secara baik, namun juga sangat menyenangkan untuk disimak. Tipikal film Halloween yang cocok untuk disaksikan beramai-ramai bersama teman-teman kalian sembari menikmati minuman beralkohol tanpa menyadari bahwa ada sesosok bayangan yang sedang mengintai kalian dari balik jendela. Plot yang terjalin dengan rapi, detail yang cukup memukau, beberapa twist mengejutkan, serta sedikit bumbu humor yang digarap dengan sangat menarik menjadikan Trick ‘r Treat sebagai salah satu film horror yang ‘Halloween banget’. Film ini memberikan nuansa kengerian serta menyenangkan dalam porsi berimbang. Dari segi teknis, Trick 'r Treat berhasil memadukan rangkaian gambar-gambar indah dengan pergerakan kamera yang efektif sehingga mampu membangun atmosfir mencekam serta puitis dalam satu sajian yang sangat sayang untuk dilewatkan. Silakan dapatkan filmnya di sini.

6. Here Comes the Devil

Ini adalah sebuah film horror/suspense asal Mexico yang di luar dugaan saya ternyata cukup layak simak. Meskipun dikemas dengan gaya yang sepintas terkesan ‘murahan’, Here Comes the Devil terbukti memiliki kekuatan yang cukup besar sebagai film horror. Cerita berfokus pada pasangan suami istri muda yang kehilangan kedua anak mereka pada saat bertamasya. Singkat kata, pihak berwajib berhasil menemukan kedua anak tersebut dan mengembalikan mereka kepada kedua orangtuanya. Beberapa hari setelah kejadian tersebut, sang ibu mulai menyadari keanehan-keanehan yang ditunjukkan oleh kedua anaknya. Kedua anak tersebut terkesan ‘berbeda’. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Here Comes the Devil lebih berfokus pada misteri serta atmosfir mencekam. Mungkin tidak terlalu mengerikan sebagai film dengan genre horror. Meski demikian, plot yang ditampilkan dalam film ini cukup menarik untuk diikuti. Ada sedikit unsur sex/nudity serta gory, namun kedua hal tersebut bukanlah jualan utama film ini. Ending film cukup mengejutkan meskipun tergolong agak standar untuk film bergenre horror. Jika kalian mencari alternatif film horror dengan nuansa yang sedikit ‘aneh’ ala b-movie cult era 70an atau 80an, film ini layak kalian jadikan pilihan. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.

Demikianlah keenam film yang saya rekomendasikan untuk menemani kalian pada perayaan Halloween tahun ini. Oya, format tulisan seperti ini mungkin akan muncul kembali di lain waktu dengan tema-tema khusus lainnya. Ya udah gitu aja. Hhe…


Minggu, 12 Oktober 2014

Frank


Extraordinary movie deserves extraordinary review. So here it is. In 140 characters or less...

pseuDony @dony_iswara - 3h
1. Frank adala sala satu hal paling ter-holy-shit yang terjadi dalam kehidupan saya seminggu terakhir. Film ini berhasil menggugah jiwa seni

pseuDony @dony_iswara - 3h
2. berbicara tentang seni yang (((art))), Frank mencoba untuk melangkah ke titik yang mungkin bisa dikatakan cukup fresh. Brilian. Inofative

pseuDony @dony_iswara - 3h
3. sekilas, plot Frank mungkin akan terasa biasa saja. Cuma sekumpulan orang yang mencoba untuk membuat musik dan berharap orang lain ikut m

pseuDony @dony_iswara - 3h
8. namun bila ditilik lebi mendalam, Frank mencoba menggasak konsep kekinian yang mungkin suda terlalu kekini kinian sehingga tida lagi menj

pseuDony @dony_iswara - 3h
13. adala Jon, seorang pemuda pekerja kantoran dengan kehidupan yang suram namun senang mencipta lagu yang (sayangnya) ‘jelek’ dan tida pern

pseuDony @dony_iswara - 3h
14. Jon sangat yakin bahwa dia ‘berbakat’ dalam musik. Namun kenyataan berkata lain. Kenyataan berkata, “Jon! Cuci kaki, minum susu, lalu ti

pseuDony @dony_iswara - 3h
34. hingga akhirnya Jon bertemu dengan sebua band eksentrique nan eksperimentique bernama "Soronprfbs". Adapun Soronprfbs memiliki empat ora

pseuDony @dony_iswara - 3h
42. ada Clara, semacam pemain instrumen synthesizer dan efek efek ane. Karakter Clara sedikit bossy, songong, terkadang neurotique yang mana

pseuDony @dony_iswara - 4h
61. lalu ada duet france bernama Baraque dan Nana yang masing masing bermain gitar dan drum. Kedua pasangan ini memiliki porsi yang cukup si

pseuDony @dony_iswara - 4h
70. dan tentu saja ada Frank, pemimpin gerombolan. Sesosok karakter yang enigmatic, artsy, tida terdefinisikan, spontaneous, kekanakan, mist

pseuDony @dony_iswara - 4h
71. band ini dibimbing ole seorang manager bernama Don, yang sangat memuji Frank sebagai sala satu keajaiban musical abad ini dan bersobsesi

pseuDony @dony_iswara - 4h
72. Jon ditarik bergabung dengan Soronprfbs sebagai kebordis setela kibordis sebelumnya mencoba bunu diri dengan menenggelamkan diri ke laut

pseuDony @dony_iswara - 4h
88. awalnya Jon susah beradaptasi dengan personil Soronprfbs yang sangat eksentric dan artsee. Namun berkat ketabahan dan kepercayaan diriny

pseuDony @dony_iswara - 4h
89. Merekapun mulai merekam album baru di sebua pondok di tenga hutan. Proses kreatif berjalan cukup alot layaknya daging qurban sisa dua mi

pseuDony @dony_iswara - 4h
94. selama proses penggarapan album, Jon mulai mengenal personil lain secara lebi mendalam, terutama Clara dan Frank. Jon juga merekam prose

pseuDony @dony_iswara - 4h
105. rekaman proses rekaman tersebut diunggah ke youtube dan mendapat ‘banyak’ hits. Jon termotivasi. Dia ingin membuat Soronprfbs terkenal,

pseuDony @dony_iswara - 4h
110. ternyata ‘niat baik’ Jon tida bisa berjalan mulus. Ada sesuatu yang kurang pas. Nasib band pun dipertaruhkan. Sejauh mana Jon akan meng

pseuDony @dony_iswara - 4h
129. secara garis besar, Frank bercerita tentang musik dan obsesi manusia terhadap musik, dalam hal ini ‘anak band’. Soronprfbs adala band e

pseuDony @dony_iswara - 4h
130. layaknya film tentang band, Frank dipenuhi dengan lagu lagu dari Soronprfbs yang tida hanya unik, artsy, namun juga sangat estetis bagi

pseuDony @dony_iswara - 4h
133. tida berlebihan bila musik disebut sebagai kekuatan terbesar dalam film ini. meski demikian, aspek teknis lainnya juga digarap dengan b

pseuDony @dony_iswara - 4h
143. komposisi gambar, palet warna, pencahayaan, pergerakan kamera, sudut pengambilan gambar, semuanya tercipta dengan indah bagai rumput te

pseuDony @dony_iswara - 4h
149. selain musik, fokus utama film ini tentu saja karakter Frank yang begitu memorable. Intonasi bicara serta gesture tokoh ini mampu membu

pseuDony @dony_iswara - 4h
167. karakter Frank bagaikan oase di padang pasir, bagai sekeping toblerone dalam martabak, bagaikan angin segar di blantika musik Indonesia

pseuDony @dony_iswara - 4h
213. karakter Jon dan Clara pun tida kalah pentingnya. In fact, bahkan kedua orang prancis itu juga memiliki andil penting dalam plot film i

pseuDony @dony_iswara - 4h
266. kemasan filmpun ditampilkan dengan sangat menarik. Bagaikan sepeda roda tiga yang terbuat dari kulit rusa. Frank disajikan dengan alur

pseuDony @dony_iswara - 4h
291. ada banyak momen humor kering atau lelucon awkward atau potongan dialog wtf atau adegan yang fak fak fak dalam Frank yang kesemuanya me

pseuDony @dony_iswara - 4h
390. intinya, bila kalian menyukai musik yang katanya eksperimental, atau suka dengan karakter karakter eksentrik, Frank sangat saya rekomen

pseuDony @dony_iswara - 4h
5625. demikian kultweed saya mengenai standar kekinian dalam bermusik: sebua telaah dengan sudut pandang yadda yadda bla bla bla wasweswos…

pseuDony @dony_iswara - 4h
77782019. silakan dapatkan film ini di sini

Senin, 08 September 2014

Beginners

Tidak banyak film yang bisa menyita perhatian saya mulai dari menit pertama. Beginners adalah salah satunya. Film drama romance ini hadir dengan gaya sederhana yang sangat menyenangkan untuk disimak, setidaknya bagi saya. Mungkin karena kesan yang mendalam inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk membuat semacam review mengenai film ini setelah kemarin malam saya menonton film ini kembali untuk keenam kalinya lalu paginya saya mendownload album soundtracknya. Illegally, of course.
Ada tiga tokoh utama di film ini. Ada Oliver Fields, seorang ilustrator berusia 38 tahun dengan kehidupan yang terkesan hambar. Lalu ada Hal Fields, ayah kandung dari Oliver, seorang pria tua yang mengidap kanker dan memiliki kekasih bernama Andy. Lalu ada Anna, gadis cantik yang menjadi love interest Oliver.
Now, premis film ini sebetulnya sangat sederhana. Oliver adalah tipe laki-laki yang terkesan kaku. Mungkin karena masa kecilnya yang 'kurang bahagia'. Tapi dia tidak terkesan freak atau nerd. Hanya sedikit murung. Meski demikian, Oliver sangat mencintai ayahnya, Hal, yang mengaku bahwa dia gay setelah istrinya yang juga ibu Oliver meninggal dunia. Oliver tidak keberatan dengan keputusan ayahnya. Hal lalu mulai menjalani hubungan dengan Andy yang jauh lebih muda usianya ketimbang dirinya. Lalu kemudian Hal divonis mengidap kanker. Oliver semakin murung. Di sisi lain, Oliver terkesan mengagumi hubungan antara ayahnya dengan Andy. Cara Oliver melihat kemesraan antara ayahnya dengan Andy terkadang terkesan agak desperate. Hingga akhirnya, di suatu pesta Oliver bertemu dengan Anna, seorang gadis yang sebenarnya sama murungnya, namun di saat yang bersamaan dapat membuat Oliver menjadi sedikit 'hidup'. Hal akhirnya meninggal dunia. Hubungan Oliver dengan Anna pun mulai mengalami sedikit masalah. Oliver sendiri harus berjuang mengatasi 'masalah'nya selepas kematian Hal, tetap menjalani hidup, dan berusaha untuk melanjutkan hubungannya dengan Anna.
Beginners adalah film kecil yang digarap dengan begitu apik. Film ini mencoba menyajikan fragmen kehidupan secara sederhana. Sedikit membosankan memang, karena mungkin begitulah kehidupan, membosankan, tanpa adanya hal-hal fantastis. Namun, di sisi lain, Beginners juga mencoba untuk menunjukkan bahwa justru hal-hal kecil yang sesungguhnya bisa membuat kehidupan layak untuk dijalani, dinikmati, diperjuangkan. Hal ini bisa dilihat dari karakter Andy serta beberapa scene yang melibatkan Anna dan Oliver. Judul film inipun sarat akan makna. Bahwa betapa setiap dari kita sesungguhnya hanyalah pemula dalam kehidupan dan cinta. Ok. Saya mulai terkesan terlalu serius.
Anyway, kekuatan terbesar Beginners adalah penyajiannya. Ada beberapa bagian di mana Oliver akan menjelaskan sesuatu secara deskriptif. Dan hal ini sangat menarik bagi saya. Gambar-gambar yang diciptakan Oliver pun tak kalah menariknya dan bisa menjadi elemen penting dalam film ini, meskipun tentu saja porsinya sangat kecil. Begitulah. Film ini memang sarat akan hal-hal remeh yang anehnya sangat menarik bagi saya. Kegiatan membuat graffiti yang dilakukan Oliver bersama temannya pada suatu malam, misalnya. Atau 'ceramah' Hal mengenai singa dan jerapah. Hal-hal remeh. Namun berkesan sangat mendalam.
Akting serta penokohan sangat solid. Chemistry bisa terbangun dengan sangat lugas, baik antara Oliver dengan Hal, maupun antara Oliver dengan Anna. Oya, ada juga satu karakter penting dalam film ini. Seekor anjing kecil bernama Arthur.
Artistik dan tata visual film inipun sangat memuaskan. Beberapa scene ditampilkan dengan penggunaan cahaya, pemilihan warna, serta framing yang sangat tepat. Gambar-gambar di film ini saya nilai sudah cukup berhasil untuk membangun nuansa intim serta kedekatan antar karakter. Demikian juga untuk membangun atmosfir film secara keseluruhan.
Score dan musik pun hadir tanpa cela. Efektif dan bisa menyatu dengan beberapa scene dalam film secara natural.   
Finally, Beginners is all about love. Cinta Hal pada Andy, cinta Andy pada Hal, cinta Hal pada Oliver, cinta Oliver pada Hal, cinta Oliver pada Anna, cinta Anna pada Oliver, cinta Oliver pada Arthur, dan cinta Arthur pada Oliver. Jika kalian menyukai Punch-Drunk Love, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, atau Greenberg, Beginners sangat saya rekomendasikan sebagai tontonan. Sekitar 20 menit pertama film ini saya tak hentinya tersenyum kecil. This movie is sweet, brilliant, simple, and also very strong as well. This is what good movie looked like. Silakan dapatkan filmnya di sini.       

Rabu, 30 Juli 2014

Blue Ruin

Sejauh mana kalian akan mengorbankan kehidupan kalian untuk melakukan suatu aksi balas dendam? Premis sederhana inilah yang diangkat dalam Blue Ruin, sebuah film indie bergenre thriller yang dikemas dengan begitu rapi dan mendetail. Tema balas dendam merupakan salah satu tema favorit saya dari genre thriller. Sebut saja Straw Dogs (1971) atau yang sedikit agak candy coated seperti I Spit on Your Grave (1978) dan The Last House on the Left (1972), yang kesemuanya telah pernah mengalami proses remake. Ada juga film-film Korea dengan tema yang sama yang cukup saya gemari seperti I Saw the Devil (2010) atau The Vengeance Trilogy (Sympathy for Mr. Vengeance/2002, Old Boy/2003, dan Sympathy for Lady Vengeance/2005) yang fenomenal itu. Film-film bertema balas dendam di atas sarat akan adegan kekerasan dan dikemas dengan gaya yang cukup brutal. Tidak demikian halnya dengan Blue Ruin.
Tokoh utama dalam Blue Ruin adalah seorang pria bernama Dwight. Dwight digambarkan sebagai seorang pria dengan karakter yang pendiam. Sangat tenang dan cenderung terkesan lemah. Bahkan menjurus loser. Semacam penjaga kasir yang hanya akan menunduk diam sambil berkali-kali meminta maaf ketika mendapat komplain dari pembeli. Ekspresi wajah, gestur, serta gaya bicara Dwight semakin memperkuat kesan bahwa Dwight adalah seorang pria yang tak akan mampu menyakiti bahkan seekor nyamuk sekalipun.
Dwight hidup layaknya gelandangan dalam mobil Pontiac biru bututnya selepas kematian kedua orang tuanya yang dibunuh oleh Wade Cleland. Namun gaya hidup nomaden ini mendadak berubah ketika Dwight mendapat kabar bahwa Wade akan dibebaskan dari penjara. Dwight segera menyusun rencana untuk membalaskan dendamnya. Niatnya berhasil. Wade mati di tangannya dengan cara yang cukup brutal, tidak beberapa lama setelah pria itu menghirup udara bebas.
Selepas membunuh Wade, Dwight segera mengunjungi saudara perempuannya, Sam, dan menceritakan apa yang baru saja dilakukanya. Sampai pada satu titik, Dwight akhirnya menyadari bahwa nyawa Sam serta kedua anaknya mungkin akan terancam karena keluarga Cleland mungkin akan memburu mereka. Dwight pun meminta Sam agar membawa kedua anaknya mengungsi untuk sementara dan menempati rumah Sam untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan buruk yang mungkin bisa terjadi. 
Sampai di sini, dimulailah permainan kucing dan tikus antara Dwight dan keluarga Cleland. Hingga pada puncaknya, Dwight harus menerima kenyataan pahit tentang apa yang sesungguhnya terjadi, kenyataan di balik terbunuhnya kedua orang tuanya dan hubungan antara kejadian tersebut dengan keluarga Cleland. 
Blue Ruin bukanlah film bertema balas dendam biasa. Ada faktor kejutan yang cukup membawa pengaruh besar ke dalam plot cerita. Alur film yang cenderung lambat dan tenang bukan merupakan suatu hambatan dalam pengembangan cerita yang cukup menegangkan pada beberapa bagian. Adegan kekerasan memang muncul pada beberapa bagian film. Namun itu bukanlah jualan utama film ini. Film ini lebih berfokus pada nuansa dingin serta desperate sang aktor utama dalam menuntaskan apa yang telah dimulainya. 
Kredit terbesar pantas disematkan pada Macon Blair yang memerankan karakter Dwight. Akting Blair merupakan tamparan keras terhadap beberapa "aktor ternama" Hollywood dengan kemampuan akting medioker. Sekilas, mungkin kalian bisa membandingkan karakter Dwight dengan karakter pengemudi di Drive. Sama-sama jarang berbicara. Bedanya, pengemudi di Drive terkesan 'cool' dan keren, sementara Dwight terkesan menyedihkan. Namun justru kesan menyedihkan itu yang semakin memperkuat plot serta nuansa dalam film ini. 
Sinematografi film ini pun mampu berbicara lantang. Dengan budget yang tergolong kecil, sang sutradara, Jeremy Saulnier, mampu menciptakan rangkaian gambar serta spesial efek (hanya ada sedikit spesial efek yang digunakan dalam film ini) yang sungguh memukau. The man behind the gun, indeed. Ditambah lagi dengan ilustrasi musik yang mampu membangun intensitas cerita secara keseluruhan. Secara teknis, Blue Ruin nyaris tanpa cela.
Kekuatan lain dari film ini adalah detail. Bagaimana gambar mampu berbicara lebih banyak dibandingkan dialog. Hal ini turut didukung dengan pergerakan kamera serta sudut pengambilan gambar yang penuh perhitungan. Sedikit terkesan artistik. Namun tetap sesuai kebutuhan dan mampu memaparkan plot secara baik.
Overall, Blue Ruin adalah film thriller yang sangat pantas untuk disimak. Terbukti bahwa untuk membangun ketegangan, tidak perlu terlalu sering menciptakan rangkaian adegan yang melelahkan. Bahkan ketegangan bisa dibangun lewat hal-hal bernuansa 'tenang' sekalipun. Silakan dapatkan filmnya di sini.     

Senin, 30 Juni 2014

Nebraska

Ada film-film yang muncul dengan begitu 'heboh'nya, mengemas cerita penuh tendensi, serta ditampilkan secara cukup hiperbolis. Namun sekali waktu, muncul juga film-film 'kecil' yang terkesan sederhana, menyampaikan cerita sederhana, ditampilkan secara sederhana, namun anehnya justru mampu meninggalkan kesan yang lebih mendalam dibandingkan film-film 'ribut' yang saya sebutkan sebelumnya. Salah satu sutradara yang (sepertinya) gemar membuat film-film bergaya seperti ini adalah Alexander Payne. Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan menonton Nebraska, sebuah road movie manis manis getir yang dikemas dalam balutan warna hitam putih yang kebetulan disutradarai oleh Alexander Payne.
Saya pertama mengenal Alexander Payne lewat About Schmidt, sebuah drama syahdu tentang seorang pria tua yang mencari arti kehidupan di usia senja. Lalu saya sempat juga menonton karya Payne lainnya, The Descendants, yang tak kalah syahdunya, lengkap dengan balutan musik khas Hawaii yang mendayu-dayu itu. Sayangnya, hingga saat ini, saya malah belum berkesempatan untuk menyaksikan Sideways yang digadang-gadang sebagai salah satu karya terbaik Payne.
Lewat Nebraska, Payne kembali bermain-main dengan tema-tema kegemarannya yaitu kehidupan di usia senja serta hubungan antar anggota keluarga. Secara garis besar, Nebraska mengangkat cerita tentang seorang pria tua bernama Woody Grant yang percaya bahwa dia baru saja memenangkan undian berhadiah uang tunai yang tidak sedikit jumlahnya. Woody tinggal di Billings, sementara untuk mendapatkan uang hadiah undian tersebut, dia harus mengunjungi sebuah kantor yang berada di Nebraska. Di lain pihak, Woody sudah jadi semacam agak pikun, layaknya orang berusia senja kebanyakan. Belum lagi ditambah dengan sejarah kecanduan alkohol yang pernah singgah dalam kehidupannya di masa lalu. Khawatir terjadi sesuatu terhadap Woody dalam perjalanannya, anak laki-lakinya yang bernama David Grant terpaksa menyetujui untuk mengantarkan ayahnya menuju Nebraska, meskipun sebelumnya David selalu mencoba menyadarkan ayahnya bahwa pergi ke Nebraska adalah suatu kesia-siaan belaka karena undian tersebut hanyalah semacam bentuk penipuan/scam. Maka dimulailah perjalanan kedua bapak anak tersebut dari Billings menuju Nebraska. Sepanjang perjalanan, layaknya road movie kebanyakan, ada banyak hal menarik yang terjadi pada keduanya yang pada akhirnya mampu mengubah sikap David pada ayahnya serta menguak berbagai kejutan seputar kehidupan Woody.   
Sepintas, Nebraska mengingatkan saya pada Le Grand Voyage atau Transamerica yang sama-sama mengangkat gaya road movie serta menampilkan cerita mengenai pasangan orang tua dan anak yang harus menghabiskan waktu bersama sepanjang perjalanan dari satu kota ke kota lainnya. Di Nebraska, akting serta chemistry antara Woody dan David sungguh memukau. Karakter Woody yang sedikit keras kepala sungguh serasi ketika dipadankan dengan karakter David yang terkadang terkesan 'ayo aja lah' dan sedikit pasrah dengan keadaan.
Dialog yang ditampilkan dalam Nebraska terkesan alami namun dapat betul-betul mengena pada beberapa bagian. Perhatikan saja dialog yang terjadi ketika David membantu ayahnya mencari gigi palsunya yang diduga terjatuh di sekitar rel kereta api. Sederhana, namun cukup mampu memancing terciptanya senyum tipis di wajah saya.
Dari segi visual, keputusan untuk mengemas Nebraska dalam betuk film hitam putih saya nilai cukup tepat. Meski tampil dalam kemasan hitam putih, Nebraska memiliki beberapa scene yang sangat puitis secara visual.
Alur film berjalan agak lambat dan mungkin akan berpotensi membosankan bagi beberapa orang. Namun bagi saya pribadi, meskipun film ini memiliki alur lambat serta hadir dalam format hitam putih, Nebraska saya nilai sangat jauh dari kesan membosankan. Justru film ini sangat mampu menarik saya tenggelam dalam cerita yang diracik dengan kesederhanaan yang sungguh manis serta memikat. Belum lagi ditambah dengan ilustrasi musik yang mendayu-dayu yang seolah-olah semakin memberi nyawa pada film secara keseluruhan.
Overall, Nebraska sekali lagi berhasil membuktikan kepiawaian Payne dalam menggodok tema sederhana menjadi suatu tontonan yang sangat layak untuk disimak. Beberapa awkward moment yang muncul sepanjang film pun terkesan alami dan tidak terlalu dipaksakan. Pada beberapa bagian, saya dibuat sedikit tertawa dengan situasi yang ditampilkan di Nebraska. Sedikit satir di sana, beberapa bagian manis di sini, serta sekelumit kesedihan di situ. Film dengan adonan yang cukup sempurna dengan gaya feel good sad movie ala Alexander Payne. Silahkan dapatkan filmnya di sini

Kamis, 26 Juni 2014

Snowpiercer

Saya pertama berkenalan dengan Bong Joon-ho lewat Memories of Murder, sebuah drama/thriller dengan plot serta gaya penyajian yang sangat memukau. Saya juga berkesempatan menonton Mother, karya lain dari sang sutradara yang juga tidak kalah intensnya dengan Memories of Murder. Ketika mengetahui bahwa Bong Joon-ho akan menyutradarai Snowpiercer, film pertamanya dengan menggunakan bintang Hollywood, saya menjadi sedikit penasaran akan seperti apa hasilnya nanti. Tadi siang akhirnya saya berkesempatan menonton film ini dan kesan yang saya dapatkan adalah Snowpiercer merupakan karya yang cukup menakjubkan secara garis besar.
Cerita dalam film ini diangkat dari sebuah grafik novel. Berbeda dengan Memories atau Mother yang berkutat seputar kasus kriminal, Snowpiercer tampil dalam balutan tema sci-fi/dystopian yang cukup kental. Perbedaan lain yang cukup mendasar adalah pada Memories atau Mother pendekatan yang digunakan bergaya realis dan cenderung menitikberatkan pada psikologi karakter, sementara pada Snowpiercer, cerita ditampilkan dengan nuansa metafora yang cukup kuat serta sedikit agak bergaya surealis.
Secara garis besar, Snowpiercer menceritakan tentang kondisi bumi di masa depan yang sudah tidak dapat lagi dihuni oleh manusia (dan mungkin makhluk hidup lain) dikarenakan menurunnya suhu udara secara drastis akibat sebuah eksperimen untuk menanggulangi masalah pemanasan global. Eksperimen tersebut mengubah permukaan bumi menjadi hamparan salju dengan suhu dingin yang cukup ekstrim. Manusia dari berbagai belahan bumi yang berhasil bertahan hidup dari 'bencana' tersebut dikumpulkan dalam sebuah kereta api bernama Snowpiercer yang berjalan mengelilingi bumi tanpa henti. Kehidupan di dalam kereta api tersebut juga digambarkan secara cukup ekstrim dimana rangkaian gerbong bagian belakang dihuni oleh masyarakat kelas bawah, sementara rangkaian gerbong bagian depan dihuni oleh masyarakat kelas atas yang dipimpin oleh Wilford, sang pencipta kereta api yang tinggal di ruang mesin atau lokomotif.
Masyarakat kelas atas memimpin dengan gaya totalitarian dan hidup dalam kemewahan. Sementara itu, masyarakat kelas bawah hidup layaknya sampah, serba kekurangan dan di bawah tekanan. Akhirnya, masyarakat kelas bawah mulai merencanakan semacam serangan balik terhadap masyarakat kelas atas. Dipimpin oleh Curtis, mereka mulai menyusun strategi untuk mencapai rangkaian gerbong bagian depan dengan tujuan untuk menumbangkan kekuasaan masyarakat kelas atas. Untuk menjalankan aksinya, Curtis dibantu oleh Namgoong Minsoo, seorang spesialis keamanan yang diyakini Curtis sebagai perancang semua sistem kunci pada semua pintu di gerbong kereta.
Plot Snowpiercer mungkin akan terlihat sedikit lemah pada beberapa bagian (terutama yang menyangkut hal-hal berbau teknis), layaknya film-film bertema sci-fi kebanyakan. Meski demikian, bila dilihat secara keseluruhan, Snowpiercer sesungguhnya menyajikan metafora yang cukup brilian dalam plotnya. Mengusung semangat 1984 atau V for Vendetta, Snowpiercer berusaha untuk mempertanyakan kembali posisi manusia dalam kehidupan, tentang fungsi manusia dalam masyarakat, serta tentang tanggung jawab moral yang harus diemban manusia dalam pengulangan atau penciptaan sejarah. Film ini juga sedikit banyak mengingatkan saya akan The Matrix, terutama tentang konsep keseimbangan dalam suatu tatanan masyarakat/sosial.
Dari segi visual serta artistik, Snowpiercer saya nilai tidak mengecewakan. Beberapa scene bahkan menyajikan tampilan visual yang terlihat sangat mengagumkan dengan detail yang sempurna pada sisi artistiknya. Sektor score juga saya nilai cukup memuaskan meski tak bisa dibilang terlalu istimewa. Overall, sisi teknis saya nilai cukup baik dalam menunjang plot secara keseluruhan.
Kredit terbesar mungkin layak saya berikan pada Tilda Swinton yang memerankan karakter bernama Mason, tangan kanan Wilford. Karakter serta tampilan fisik Mason yang cukup unik serta agak komikal mampu menjadi pusat perhatian pada beberapa scene. Belum lagi dengan ekspresi wajah serta gaya bicaranya yang sangat hiperbola. Wajah Tilda pun dipermak cukup sempurna hingga saya sempat tidak percaya bahwa apa yang sedang saya lihat adalah seorang Tilda Swinton. Momen terbaik karakter Mason adalah ketika wanita tersebut memberikan semacam 'wejangan' pada masyarakat kelas bawah sambil memegang sepatu.
Snowpiercer mungkin bukan karya terbaik Bong Joon-ho. Film ini mungkin belum bisa mengungguli atau bahkan sekedar menyamai Memories of Murder yang saya anggap sebagai karya terbaik Bong Joon-ho sejauh ini. Film ini juga mungkin dianggap sebagian orang kurang layak mendapatkan predikat sebagai salah satu film bertema sci-fi/dystopian terbaik. Meski demikian, Snowpiercer saya nilai tidak terlalu mengecewakan. Cukup menyenangkan untuk disimak dan memiliki beberapa detail yang cukup sempurna baik pada sisi plot, karakter, maupun tampilan visual. Silahkan dapatkan filmnya di sini.      
          

Sabtu, 14 Juni 2014

Polisse

Kasus kriminal atau kejahatan pada anak-anak di bawah umur. Kalimat ini saya rasa sudah cukup menjadi alasan kuat untuk menonton Polisse, sebuah film yang mengangkat tentang sepak terjang sebuah divisi khusus di kepolisian yang mengurusi semua kasus yang berhubungan dengan anak-anak di bawah umur mulai dari tindak kekerasan terhadap anak-anak di bawah umur hingga eksploitasi seksual yang melibatkan anak-anak di bawah umur atau remaja. Divisi ini terdiri dari beberapa orang polisi dengan karakter berbeda-beda. Beberapa orang dari mereka adalah wanita. Lalu ada juga seorang jurnalis wanita yang ditugaskan oleh pemerintah untuk meliput serta mendokumentasikan kerja divisi ini. Bayangkan [REC], lalu ganti petugas pemadam kebakaran dengan personil divisi ini dan ganti 'zombie' dengan pelaku kejahatan, ganti juga adegan sadis menegangkan berlumuran darah dengan dialog-dialog yang mencengangkan, memerihkan hati dan perasaan. Kalian akan mendapatkan Polisse, film drama dengan alur serta intensitas cerita yang sungguh kuat.
Cerita dibuka dengan adegan interogasi. Seorang polisi wanita berusaha menggali keterangan dari seorang anak perempuan yang diduga mengalami tindak pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang tuanya. Adegan awal ini saja sudah mampu menciptakan sayatan di hati. Suasana yang tenang serta ekspresi anak perempuan tersebut saat menceritakan apa yang pernah dialaminya akan membuat kalian menghela napas panjang. Sederhana dan sangat mengena. Adegan awal ini saya nilai cukup berhasil membangun atmosfir cerita secara keseluruhan. Semacam peringatan bahwa film yang akan kalian lihat bakal penuh berisi dengan hal-hal getir yang mengejutkan sekaligus menyedihkan.
Semua kasus yang ditampilkan di film ini didasarkan pada kasus nyata yang benar-benar pernah terjadi. Meski demikian, film ini tidak berfokus pada kasus tertentu saja, melainkan lebih ke pada bagaimana anggota divisi tersebut menghadapi pekerjaan mereka serta efek pekerjaan terhadap kehidupan pribadi dan kondisi psikologis mereka.
Fokus cerita lainnya adalah tentang Melissa, sang jurnalis wanita yang mulai menyimpan perasaan pada salah satu anggota divisi. Keterlibatan Melissa dalam divisi tersebut, mau tak mau mulai mempengaruhi objektivitasnya sebagai 'pihak luar'. Tentu saja. Siapa yang tak akan terlibat emosinya jika setiap hari harus berhadapan dengan anak-anak korban pelecehan seksual? Ketika Melissa mulai melibatkan perasaan dalam tugasnya, hal itu tentu merupakan sesuatu yang cukup wajar, meskipun seharusnya, idealnya, hal tersebut tidak semestinya terjadi.
Bahkan anggota divisi yang sudah demikian terlatih, pada satu titik bisa menjadi meledak ketika dihadapkan dengan pilihan antara 'yang seharusnya dilakukan' dan 'yang bisa dan boleh dilakukan'. Dalam bidang profesi seperti ini, terlalu melibatkan perasaan serta emosi bukanlah hal yang baik bagi profesionalisme. Ada aturan yang tetap harus diikuti meski terkadang hati berteriak bahwa 'ini tidak benar!'. Hal ini tergambarkan dengan cukup baik pada beberapa bagian cerita. 
Polisse ditampilkan dengan menggunakan gaya dokumenter yang mana sangat efektif dalam memupuk rasa perih yang ditebarkan di berbagai penggalan cerita melalui kesan nyata yang ditimbulkan. Film ini seperti Short Term 12, hanya dengan kadar getir yang mungkin lebih tinggi. Adegan penutup pun sangat dramatis dan mampu membuat napas saya tercekat. Beberapa bagian cerita mungkin bisa membuat kalian geram. Film yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kalian bisa mendapatkan filmnya di sini.  
    

Selasa, 27 Mei 2014

You're Next

Saya mulai (agak) mengurangi menonton film horror/thriller/slasher/gore semenjak franchise Saw mulai agak mengalami semacam disorientasi. Padahal, dulu saya cukup menyukai sub-genre horror yang satu ini. Meski demikian, pasca Saw XIV yang 'nggak jelas banget maunya apa' itu, saya masih berkesempatan menonton beberapa film horror/slasher/gore/whatever yang cukup layak diapresiasi, tidak hanya sekedar mengumbar berliter-liter darah artifisial dan luka-luka yang menganga (meskipun sesungguhnya justru elemen-elemen inilah yang dicari pada film-film bergenre demikian). A Serbian Film contohnya. Kemudian muncul juga sebuah sub-genre 'baru' yang dikenal dengan nama Mumblegore, sub-genre yang digadang-gadang mampu mengembalikan thriller/gore/slasher ke fitrahnya. You're Next adalah salah satu film yang mendapat kehormatan untuk menyandang predikat sub-genre 'baru' ini.
Secara garis besar, plot You're Next sesungguhnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Meski demikian, saya cukup bersyukur karena film ini bukanlah film bertema found-footage yang tampaknya jadi semakin hambar akhir-akhir ini. Diceritaken dalam You're Next, sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan empat orang anaknya (yang sudah dewasa) merencanakan untuk menghabiskan malam bersama di sebuah rumah peristirahatan yang terletak di daerah yang cukup terpencil dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan pasangan tersebut. Keempat orang anak itu membawa pasangan mereka masing-masing sehingga total ada 10 orang yang berada di rumah peristirahatan tersebut. Ketegangan dimulai saat acara makan malam, dimana terjadi suatu insiden penyerangan yang mengubah suasana menjadi cukup mencekam. Merasa keselamatan mereka terancam, penghuni rumah peristirahatan tersebut mulai memikirkan bagaimana caranya untuk meminta pertolongan ke luar atau bahkan untuk sekadar bertahan hidup. Tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Belum lagi ditambah beberapa kejutan yang muncul kemudian.    
Sebagai film bertema survival horror, You're Next sudah memenuhi beberapa standar dasar film horror dengan tema ini, set terbatas, karakter berjumlah lebih dari dua atau tiga orang yang harus bertahan hidup, musuh yang tak diduga, serta kebangkitan salah satu tokoh utama sebagai 'juru selamat'. Motif yang mendasari plot juga cukup dapat diterima, meski sebenarnya cukup terasa klise, namun bisa diolah dengan baik. Intensitas cerita dapat terjaga sempurna dari awal hingga akhir film. Pengembangan plot cukup mulus tanpa terkesan terlalu dipaksakan. Tentu saja masih ada beberapa celah yang mungkin sedikit mengganggu, namun bukan menjadi suatu masalah besar. Cerita masih tetap bisa dinikmati tanpa perlu merasa (terlalu) dibodohi.  
Dari sisi teknis, You're Next tidak jauh banyak berbeda dengan film-film horror generasi baru yang cukup populer akhir-akhir ini. Pemilihan warna, pergerakan kamera, serta komposisi gambar, kesemuanya mengamini pakem-pakem yang berkembang di genre horror belakangan ini. Begitu juga pemilihan ilutrasi musik yang saya nilai cukup brilian. Ya, salah satu kekuatan You're Next adalah ilustrasi musiknya yang mengacu ke gaya ilustrasi musik horror era 70an dan 80an.
Pada akhirnya, You're Next menjadi salah satu film thriller mencekam yang cukup layak untuk dinikmati. Semacam Home Alone untuk penonton dewasa yang 'haus darah'. Menyenangkan. Jika kalian sempat menyukai The Strangers, I Spit on Your Grave, atau bahkan Scream yang fenomenal itu, You're Next cukup pantas untuk kalian tonton. Silahkan dapatkan filmnya di sini.  

Rabu, 21 Mei 2014

Take Shelter

Jika tidak salah ingat, semasa kecil dulu saya pernah mendengar semacam dongeng(?) yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang selalu meneriakkan bahwa akan datang sebuah badai besar yang akan menghancurkan seisi desa. Sayangnya, tidak ada satupun penduduk desa yang mempercayai perkataan laki-laki tersebut. Hingga akhirnya badai besar itu benar-benar datang dan benar-benar menghancurkan desa tersebut dan semua orang mati kecuali laki-laki tersebut yang berhasil berlindung di ruang bawah tanah yang dibuatnya di belakang rumahnya. Saat menonton sepertiga awal Take Shelter, dongeng itulah yang muncul pertama kali dalam pikiran saya. Dan saya dengan gegabahnya menganggap bahwa film ini hanyalah sekedar interpretasi bebas dari dongeng tersebut, tentang seorang laki-laki yang percaya bahwa badai besar akan datang namun tak seorangpun yang mempercayai apa yang dipercaya oleh laki-laki tersebut. Ternyata saya salah. Take Shelter ternyata lebih dari sekedar apa yang saya pikirkan pada awalnya.
Tokoh utama dalam Take Shelter adalah seorang pria bernama Curtis. Curtis memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Sepintas, Curtis tidak ada bedanya dengan pria kebanyakan. Dia bekerja untuk keluarga kecilnya dan sangat mencintai istri serta anak satu-satunya. Namun di balik semua itu, Curtis ternyata memendam suatu masalah yang cukup pelik. Curtis sering mengalami mimpi buruk dimana dia melihat datangnya badai besar, badai yang aneh yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Semacam pertanda. Atau 'wahyu'. Dan mimpi buruk Curtis mulai mempengaruhi kestabilan mentalnya, kehidupan pribadinya, kehidupan sosialnya, serta berpotensi mengancam keutuhan rumah tangganya. Seiring dengan berjalannya cerita, mimpi buruk Curtis mulai mengalami semacam 'modifikasi'. Perilaku Curtis juga mulai berubah. Menyadari masalah yang dihadapinya, Curtis berusaha untuk menemukan solusi terbaik. Dia mencari berbagai informasi mengenai gangguan mental serta berkonsultasi ke psikiater. Di sisi lain, Curtis masih mempercayai mimpinya. Dia mulai membangun bunker sebagai tempat perlindungan bagi keluarganya dari badai besar yang dilihatnya di dalam mimpi buruknya. Apakah badai besar itu benar-benar akan datang? Mampukah Curtis mengatasi masalah yang dihadapinya dan menyelamatkan keluarga kecilnya? Lebih jauh lagi, mampukah Curtis 'menyelamatkan' diri dari dirinya sendiri?
Take Shelter mengupas tentang rasa takut. Fokus utama film ini sesungguhnya bukanlah mengenai badai besar yang ditakuti oleh Curtis melainkan rasa takut itu sendiri. Bagaimana rasa takut itu bisa mengubah kehidupan seseorang dan juga kehidupan orang-orang di sekitar seseorang tersebut. Tempo film sangat lambat dan dibangun dengan seksama. Butuh kesabaran ekstra untuk benar-benar bisa 'menikmati' film ini. Meski demikian, saya rasa tempo lambat ini cukup berhasil dalam memperkuat intensitas cerita. Akting sangat layak mendapat pujian, terutama untuk karakter Curtis dan istrinya. Dari segi artistik, sinematografi film ini cukup memukau untuk ukuran film dengan budget relatif terbatas. Demikian juga dengan pemilihan musik latar yang sanggup membangun atmosfir kelam mencekam di beberapa bagian. Take Shelter saya rekomendasikan untuk kalian yang menyukai film dengan karakter yang kuat serta pengembangan cerita yang digarap secara matang. Sekali lagi, film ini memiliki tempo yang sangat lambat dan berpotensi membosankan. Namun demikian, saya pribadi menyatakan bahwa film ini sangat sangat sangat sayang untuk dilewatkan. Pilihan ada di tangan kalian. Saya mau bikin kopi dulu. Sementara itu, kalian bisa mendapatkan film ini di sini.       

Kamis, 15 Mei 2014

Fuck

Dokumenter. Di satu sisi, genre ini bisa jadi sangat serius, penuh tendensi, serta mengangkat isu 'berat' yang 'meresahkan' masyarakat. Pemanasan global, krisis bahan bakar, masalah sampah, serta pembantaian lumba-lumba, adalah beberapa contoh tema dokumenter dengan konten serta pembahasan yang cukup membuat depresi. Di sisi lain, dokumenter bisa tampil dengan kesan 'main-main' yang cukup kental, meski pokok bahasan tetap saja merupakan sesuatu yang (mungkin saja) serius. Dokumenter berjudul Fuck ini masuk ke dalam kategori kedua tersebut.
Fuck. Dokumenter ini merupakan salah satu dokumenter favorit saya sejauh ini. Saya pernah melihat/membaca bahwa kata ini merupakan kata yang istimewa dalam Bahasa Inggris. Kata 'fuck' bisa digunakan untuk menggambarkan berbagai ekspresi mulai dari rasa sakit, amarah, rasa senang, bahkan hingga kesedihan. Kata 'fuck' juga bisa menyandang berbagai fungsi dalam kalimat mulai dari kata kerja, kata benda, kata seru, kata keterangan, bahkan hingga kata sambung. Lalu sebenarnya seberapa besar peranan kata ini dalam membangun (so-called) kebudayaan modern? Apa yang membuat kata 'fuck' menjadi begitu dicintai sekaligus dibenci? Mengapa beberapa orang bisa begitu sering menggunakan kata ini sementara beberapa lainnya justru mati-matian menghindari penggunaan kata ini? Semuanya diangkat dalam film dokumenter yang 'jujur' ini. Sebuah dokumenter yang membahas mengenai segala 'mitos' serta 'kontroversi' seputar asal-usul kata 'fuck', penggunaannya, serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Ada banyak tokoh 'besar' serta orang-orang dari berbagai bidang profesi yang diwawancarai seputar kata 'fuck' di dokumenter ini. Beberapa memberikan respon yang cukup serius, sementara beberapa lainnya memberikan respon yang mungkin bisa membuat kalian tertawa. Sejauh ini, Fuck mungkin tetap menjadi satu-satunya dokumenter yang benar-benar mengupas kata ini secara menarik, tidak membosankan, namun tetap informatif, walau sebenarnya masih banyak yang bisa lebih dieksplor lagi.
Terlepas dari isinya yang memang sangat menggugah selera, Fuck juga dikemas secara apik baik dari segi visual, editing, maupun audio. Dokumenter yang mungkin bisa mengubah persepsi sebagian orang yang menganggap genre ini sebagai genre yang membosankan, penuh data statistik, dan istilah-istilah keilmuan yang kurang 'merakyat'. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.       

Senin, 12 Mei 2014

Caramel

Hingga saat ini, saya belum terlalu banyak menonton film Libanon. Beruntunglah saya bisa berkesempatan untuk menonton film ini sekitar empat atau lima tahun yang lalu, saya lupa tepatnya kapan. Namun saya masih ingat bagaimana film ini berhasil meninggalkan kesan yang mendalam, bagaimana sehabis menonton film ini saya terdiam cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk memacu motor ke warung nasi padang terdekat.
Persahabatan enam orang perempuan Libanon digarap secara apik dalam Caramel. Premis yang sepintas terlihat cukup sederhana dan berpotensi terjebak dalam klise yang membosankan. Tapi tunggu dulu, wahai qi sanaque. Di tangan Nadine Labaki, tema yang sederhana ini bisa dipoles menjadi sebuah tontonan yang sangat memikat dan layak untuk dinikmati, tidak hanya oleh kaum perempuan, namun juga oleh kaum laki-laki.
Tokoh utama di Caramel adalah seorang perempuan bernama Layale, yang juga diperankan dengan sangat manis oleh sang sutradara. Layale bekerja di sebuah salon kecantikan bersama tiga orang sahabatnya, Nisrine, Jamale, dan Rima. Lalu ada pula Rose dan Lili. Film ini mengangkat keseharian enam orang perempuan tersebut beserta seluruh problematika yang mereka hadapi masing-masing. Sebagian besar latar cerita mengambil lokasi salon kecantikan tempat mereka bekerja. Masing-masing karakter memiliki karakteristik serta 'permasalahan' yang berbeda-beda yang menjadi 'perekat' hubungan antara keenam perempuan tersebut. Caramel berkutat seputar percintaan, pernikahan, dan identitas diri sebagai seorang perempuan yang diolah dengan pendekatan yang cukup kompleks namun masih cukup nyaman untuk diikuti. 
Secara teknis, Caramel dikemas dalam tampilan visual yang sederhana namun kaya rasa. Komposisi gambar, pemilihan warna, serta pencahayaan saya nilai cukup berhasil menggambarkan nuansa cerita secara keseluruhan. Nyawa film juga didukung dengan ilustrasi musik yang menarik. Akting cukup layak diapresiasi, terutama untuk karakter dengan 'permasalahan' yang cukup 'unik'. Dialog ditampilkan secara natural, tidak terkesan terlalu didramatisir, namun justru mampu memberikan makna yang jauh lebih kuat.
Pemilihan kata karamel sebagai judul juga saya anggap sebagai suatu keputusan yang cukup brilian. Di film ini, karamel digunakan sebagai bahan untuk melakukan waxing. Karamel itu manis, namun bila dipanaskan terlalu lama bisa menjadi pahit. Karamel bisa digunakan sebagai perekat dan akan mengeras bila dibiarkan terlalu lama. Sesuatu yang sangat tepat untuk digunakan dalam menggambarkan premis film secara keseluruhan. Caramel adalah film yang seksi tanpa harus (terlalu) mengorbankan diri menjadi sebuah komoditi. Sekitar empat hari sehabis menonton film ini, seorang teman pernah bertanya kepada saya tentang pendapat saya mengenai film ini. Waktu itu saya memberikan jawaban seperti ini, "Caramel adalah jawaban sineas Libanon atas 'dangkal'nya Sex and the City."
Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.