Jumat, 03 Februari 2017

Love Is Not Enough

Hai. Halo. Jumpa lagi di blog ini yang akan memberikan rekomendasi singkat mengenai film-film apa saja yang sebaiknya anda tonton agar supaya dst dst. Yauda gitu aja basa-basinya.

Kali ini saya akan kembali menghadirkan rekomendasi tontonan bersifat tematik. Mengingat bulan Februari identik dengan cinta, maka kali ini saya akan menghadirkan rekomendasi film-film apa saja yang bisa anda tonton saat merayakan Hari Kasih Sayang. Atau bila anda tidak merayakan, setidaknya film-film berikut (mungkin) bisa membantu anda kembali memahami makna cinta yang sebenarnya. Ya. Terdengar terlalu berlebihan memang. Tapi yauda gpp.

Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, inilah 7 film yang mungkin cocok untuk menemani anda di bulan penuh cinta ini.

Oya, malah lupa, kan. Karena tulisan kali ini cukup spesial dan berbeda dengan tulisan rekomendasi regular di blog ini (yang sebenernya nga regular regular amat), maka saya memutuskan untuk mengajak beberapa teman yang kebetulan saya kenal untuk memberikan rekomendasi mereka tentang film apa yang mereka anggap cocok untuk ditonton ketika merayakan Hari Kasih Sayang. Saya juga meminta mereka untuk menulis sepatah dua patah kata mengenai alasan mengapa mereka memilih film tersebut. Kesan mereka terhadap film yang mereka pilih kemudian saya kutip dengan izin dari yang bersangkutan untuk saya tampilkan di tulisan kali ini. Jadi, di tulisan kali ini, semua rekomendasi berasal dari teman-teman sementara saya untuk sementara tidak akan memberikan rekomendasi. Tugas saya kali ini hanyalah memberikan ulasan singkat mengenai film-film yang telah dipilih oleh teman-teman tersebut.  

Dari ketujuh judul yang direkomendasikan, 3 judul belum pernah saya lihat sama sekali. Sementara 4 judul terpaksa saya tonton ulang dengan suka rela (terpaksa tapi suka rela ini gimana maksudnya hadeeehhh~) untuk menyegarkan ingatan agar saya dapat menuliskan ulasan singkat mengenai film-film tersebut di tulisan kali ini.

Yauda. Tanpa berlama-lama lagi, inilah~

      1.       Warrior (2011)

Film pertama dalam daftar ini direkomendasikan oleh seseorang yang meminta untuk tidak disebutkan identitasnya di tulisan ini. Dengan berat hati, saya menyetujui permintaan beliau. Untuk memudahkan, kita sebut saja sosok ini dengan nama Patricia (hhe hhe hhe). Ketika saya meminta rekomendasi mengenai film apa yang menurut beliau cocok untuk ditonton ketika merayakan hari kasih sayang, Patricia memilih Warrior, sebuah film drama olahraga yang mengangkat kisah dua orang petarung MMA (Mixed Martial Arts). Waktu itu saya agak sangsi dengan pilihan beliau. “Valentine masak nonton orang berantem??? Valentine yha roman mufi lah,” kata saya waktu itu. Namun Patricia memberikan pembelaannya, “There’s so much love in this movie.”

Sebenarnya saya sudah lama mengetahui film ini namun saya selalu merasa enggan untuk menontonnya karena, jujur saja, saya tidak terlalu tertarik. “Ah, paling juga cuma drama tarung biasa,” pikir saya waktu itu. Namun ketika Patricia saya hubungi dan saya tanyakan mengapa film ini cocok untuk ditonton ketika merayakan Hari Kasih Sayang, beliau memberikan jawaban yang cukup menarik. “Nah, di warrior itu, cinta-cintaannya sama istri, suami, keluarga, teman. Sumpah, aku belajar lebih dalem soal definisi ‘cinta’ ya di situ,” kata beliau.

Baiklah. Let’s give it a try, kata saya akhirnya.

Warrior memiliki plot dengan fokus utama dua orang bersaudara. Keduanya merupakan petarung MMA. Namun, keduanya digambarkan memiliki sifat serta latar belakang yang cukup jauh berbeda. Pertama ada Tommy Conlon. Film dibuka dengan Tommy yang pulang ke rumah bapaknya setelah tragedi menyedihkan yang terjadi di masa lalu. Kepulangan si anak hilang ini mampu membuka film ini dengan sangat baik. Bergelut dengan kecanduan alkohol dan obat-obatan serta upayanya untuk berdamai dengan masa lalu, Tommy bertekad untuk mengikuti kejuaraan MMA dan meminta bapaknya untuk melatihnya.

Lalu ada Brendan Conlon. Saudara kandung Tommy ini memiliki jalan hidup yang berbeda. Brendan adalah family man. Punya istri dan anak-anak yang disayanginya. Brendan berprofesi sebagai guru fisika di sebuah sekolah. Murid-muridnya menyukainya. Sekilas kehidupan Brendan terlihat sempurna. Namun ketika Brendan dihadapkan dengan kondisi butuh dana segar, Brendan terpaksa mempertaruhkan kehidupan dan keluarganya di atas ring.

Secara garis besar, plot Warrior sebenarnya tidak menghadirkan sesuatu yang baru. Cenderung terkesan sangat klise malah. Petarung dengan masa lalu suram yang terjerat alkohol dan ingin kembali ke “jalan yang benar” atau petarung yang terpaksa naik kembali ke atas ring atas dasar kebutuhan akan uang untuk mempertahankan keutuhan keluarganya, plot-plot seperti ini sudah tidak asing lagi di ranah film bergenre sport drama dengan tema olahraga tinju atau sejenisnya. Meski plotnya cukup klise, Warrior bisa digarap dengan sangat baik dan tidak terkesan murahan. Production value film ini juga cukup layak diperhitungkan. Pengembangan plot, yang meskipun terkesan agak mudah ditebak, tetap dapat meninggalkan kesan yang mendalam.

Dari segi teknis, Warrior juga cukup layak diapresiasi. Sinematografi digarap dengan gaya semi dokumenter, dengan banyak menggunakan pergerakan kamera bergaya handheld. Sinematografi yang seperti ini juga mampu membangun koneksi yang lebih intim dengan penonton. Pada beberapa bagian, gambar sengaja ditampilkan dengan kadar grain yang cukup tinggi, menambah kesan gritty pada plot. Koreografi pada scene pertarungan juga digarap dengan seksama, menghadirkan sensasi yang nyata dan dapat dipercaya secara baik.

“To me, love is forgiveness. The movie taught me to forgive. Because it’s the hardest thing to do. Orang-orang yang ribut mulu harusnya belajar saling memafkan saja,” kata Patricia tentang film ini.
Dan saya sependapat dengan beliau.

Warrior tidak cuma mengenai usaha seseorang untuk membuktikan kapasitasnya namun lebih jauh lagi, Warrior adalah tentang hubungan antara dua orang bersaudara, hubungan antara seorang bapak dengan anak-anaknya, dan hubungan antara seorang suami dengan istrinya.

Film ini bisa anda dapatkan di sini.

      2.       Blue Valentine (2010)

Siapa yang tak kenal Dea Anugrah? (jawabannya: banyak, bg~)

Penulis muda berbakat kelahiran Bhutan yang telah menelurkan beberapa karya sastra fenomenal ini (favorit saya adalah Panduan Budidaya Ikan Patin dengan Menggunakan Media Tanam Sabut Kelapa) sontak menjawab “In the Mood for Love (2000)” ketika saya tanyakan mengenai film apa yang kira-kira akan dia rekomendasikan sebagai tontonan di Hari Kasih Sayang. Namun sejurus kemudian, dia berkata, “Hmmm… Tapi Blue Valentine ku juga suka sih…”

Oke. Jadi intinya Dea merekomendasikan dua judul film. Tapi tentu yang akan saya bahas terpaksa hanya satu judul saja. Dan saya memilih Blue Valentine. Pilihan ini saya buat mengingat In the Mood for Love (saya anggap) sudah terlalu sering dibahas dan dimasukkan ke dalam berbagai daftar film rekomendasi di berbagai media yang mengulas tentang film. (bahkan bila ada artikel berjudul “7 Film yang Bisa Membuat Tanaman Hias Anda Layu Seketika”, saya yakin In the Mood for Love adalah salah satu film yang akan mengisi daftar di artikel tersebut.)

Dari judulnya saja, anda tentu bisa menebak bahwa Blue Valentine adalah film yang mengangkat kisah percintaan. Jadi tidaklah salah bila film ini anda jadikan pilihan tontonan saat Hari Kasih Sayang. Masalahnya, kisah cinta macam apa yang ditampilkan di film ini?

Kalau menurut Dea, “Film (bergenre) romance yang bagus adalah (film) yang mampu menunjukkan bahwa cinta mustahil bekerja dengan benar, alias, yang dianggap ideal oleh umat manusia. Sebab, kenyataannya, cinta adalah a fuckin’ blind uncontrollable force without purpose (selain, mungkin, membuat hidup kita miserable~) 

Blue Valentine ditunggangi oleh dua karakter utama, Dean dan Cindy, yang merupakan pasangan suami istri yang sudah memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil. Keseluruhan plot film ini bisa digambarkan sebagai cerita mengenai pasang surut kehidupan rumah tangga Dean dan Cindy. Sangat sederhana dan tidak ada yang terlalu istimewa, sebenarnya. Hanya tentang pasangan suami istri yang kebetulan sedang mengalami prahara rumah tangga. Menariknya, plot ditampilkan dengan gaya maju mundur, berpindah-pindah dari masa sekarang ke masa lalu ke masa sekarang ke masa lalu demikian seterusnya. Jurus seperti ini sangat efektif untuk menegaskan kesan “Kok kita bisa sampe kayak gini, sih? What happened to us?” pada hubungan Dean dan Cindy.

Beberapa bagian film ini akan terkesan sangat manis dan hangat. Sementara, beberapa bagian lain akan terasa sangat gelap dan dingin. Hebatnya, peralihan mood ini bisa disajikan dengan sangat halus. Perasaan anda akan sangat diaduk-aduk oleh film ini. Hasilnya, rasa hampa dan getir yang mungkin akan membekas cukup dalam ketika closing credit bergulir di layar. 

Saya sepakat dengan Dea. Film ini adalah drama romance yang bagus. Bahwa cinta bukan sekadar kata-kata indah dst dst. Bahwa terkadang, kita terpaksa menyerah pada kekuatan yang membabi buta yang (mungkin) bisa saja membuat hidup kita menderita. Bahwa sometimes, your dream-comes-true can turn into your darkest nightmare. But that’s love. Suka ataupun tidak.

Film ini bisa anda dapatkan di sini.

      3.       Last Life in the Universe (2003)

Ketika saya bertanya pada Sabda Armandio mengenai film apa yang sekiranya cocok untuk ditonton ketika Hari Kasih Sayang, beliau malah membalas dengan pertanyaan berbunyi, “Hmmm, maaf, anda siapa yha?”

Pemuda yang satu ini sudah terkenal akan reputasinya sebagai salah satu detektif partikelir andalan Kota Hujan. Kendati berprofesi sebagai detektif partikelir, Dio, begitu beliau biasa disapa, masih sempat menyisihkan waktu untuk menjalani hobinya mengambil foto sampah di sepanjang perjalan pulang dari kantor. Sehabis melontarkan pertanyaan di atas, beliau tidak langsung memberikan jawaban mengenai film apa yang menurut beliau cocok untuk ditonton di kala Hari Kasih Sayang. Dio malah mengajak saya mengobrol tentang daur ulang sampah plastik, jual beli batu nisan dengan metode barter, dan ke mana perginya lintah ketika jembatan penyeberangan dibangun.

Beberapa hari kemudian, Dio baru memberikan jawabannya. “Film rekomendasi Valentine (versi saya adalah) Last Life in the Universe,” demikian kata beliau. Mengenai alasan mengapa beliau memilih film ini, Dio menambahkan, “Jadi anda dan pasangan anda mengerti bagaimana semestinya kelian hidup di dunia yang suda terlalu penuh yaitu dengan (cara) yha-uda-gini-juga-ga-buruk-buruk-amat~ Christopher Doyle (DoP film ini) dengan gayanya yang khas berhasil mengambil gambar-gambar ena sekaligus memberi kesan bahwa tida ada kemarin dan esok, seola waktu di dalam movie tida menuju ke mana-mana, sepertinya muda-mudi kasmaran akrab dengan hal demikian~”

Last Life in the Universe mengambil latar Kota Bangkok. Cerita berkutat seputar hubungan antara seorang pria Jepang bernama Kenji dengan seorang perempuan Thailand bernama Noi. Kenji bekerja di perpustakaan sebagai librarian, sementara Noi adalah seorang perempuan yang doyan menghisap ganja. Karakter keduanya sungguh bertolak belakang. Kenji adalah sosok pendiam dan cenderung kikuk dengan masa lalu penuh misteri. Sedangkan Noi adalah perempuan yang digambarkan memiliki sifat pemalas, urakan, dan sedikit meledak-ledak. Keduanya dipertemukan oleh suatu kejadian tragis yang ‘memaksa’ mereka menghabiskan hari demi hari bersama-sama hingga akhirnya terjalin suatu hubungan asmara yang tidak hanya unik namun juga terkesan cukup sureal. Seorang pria yang (kelihatannya) lurus-lurus saja bertemu dengan seorang perempuan yang melompat-lompat. Yha~

Bila Blue Valentine cenderung bernuansa tragis dan kelam, Last Life in the Universe memunculkan nuansa mundane, suram, dan melankolis yang cukup kuat. Seperti yang dikatakan Dio, “tidak ada kemarin dan esok dan waktu tidak menuju ke mana-mana”. Sekilas terkesan membosankan memang. Namun justru pada kebosanan itulah film ini menemukan nyawanya, menghadirkan kisah cinta yang boleh dibilang puitis namun juga unreal pada waktu yang bersamaan.

Film ini terkesan ‘sepi’. Seolah memberi kesempatan pada penonton untuk merenungkan setiap potongan gambar yang disajikan dan setiap keping dialog yang diucapkan oleh karakter-karakter di dalamnya. Beberapa scene ditampilkan dengan gaya yang sungguh sederhana namun justru mampu menorehkan impresi yang kuat. Pada scene lain, visual efek digunakan secara tepat untuk menggambarkan ledakan emosi yang dialami oleh kedua karakter utama.

Seperti yang dikatakan Dio, film ini cocok untuk muda-mudi kasmaran yang sedang menghabiskan waktu bersama, menghisap rokok sembari berbaring di tepi kasur yang tergelar di atas lantai, membaca majalah, menatap langir-langit kamar, saling berdiam diri, namun ramai pada waktu yang bersamaan. Karena waktu telah berhenti dan muda-mudi itu tak akan ke mana-mana.      

Anda bisa mendapatkan film ini di sini.

      4.       Fired Up! (2009)

Saya bertemu dengan Fifa Chazali sewaktu beliau sedang asik memilih oyong di pasar gelap tempat berlangsungnya jual beli organ tubuh ilegal. Saya dekati beliau dan pura-pura ikut memilih oyong. Lalu saya lontarkan pertanyaan iseng, “Mba, film yang cocok buat ditonton pas Valentine apa yha kira-kira?”

Di luar dugaan, Fifa memukul saya dengan sebuah oyong sembari berujar, “Dasar tida sopan! Huh!” lalu pergi meninggalkan saya yang masih berdiri terpaku dengan mulut menganga.

Tepat 73 tahun kemudian, saya mendapat pesan singkat yang dikirimkan Fifa lewat fitur DM di Twitter. “Film yang cocok buat Valentine itu Fired Up!, Don,” katanya. “Gua sih selalu suka muvi yang ada high school spiritnya. Mau horror, roman, atau komedi, semua ketebak. Dari She’s All That, Clueless, The Faculty, Sister Act, ampe yang kaya Detachment pun, ada rasa familiar kalo diikutin. Ga usah mikir, tinggal tonton aja. Kalo mau mikir yang berat kaya utang di real life aja. Anyeng. Gitu. Lagian pas muda orang pada bego dan naïf. Buat bahan ketawaan. (Kaya sendirinya ga ada dosa),” demikian tambah beliau. “Gitu, bang… cocok buat Valentine. Hari yang selalu datang, tapi ga pernah wa tunggu. Ga guna bangsat. Valentine ga guna, kaya Fired Up!,” tambahnya lagi.

Hmmm~ Fifa ini memang cocok menjalani profesi sebagai guru TK, pikir saya setelah mendengarkan penjabaran beliau.

Dulu, sewaktu saya masih bekerja sebagai penjaga rental DVD, saya sebenarnya pernah mendapat akses ke film yang dimaksud oleh Fifa. Tapi waktu itu saya tidak terlalu tertarik dan melewatkan film itu begitu saja. Sekarang, sehabis direkomendasikan oleh Fifa, saya akhirnya mencoba untuk menonton film ini. Dan hasilnya~

Fired Up!, seperti juga film-film komedi rermaja berlatar belakang high school pada umumnya, telah memiliki semua aspek utama yang dibutuhkan untuk menjadikan film ini sebagai tontonan yang menghibur. Dua tokoh utama di film ini, Shawn dan Nick adalah pelajar high school yang juga merupakan anggota tim football sekolah. Shawn dan Nick tidak hanya memiliki reputasi sebagai atlet football andalan tim namun juga dikenal di sekolah sebagai dua orang laki-laki yang selalu memikirkan tentang, memakai istilah hitmansystem, “ngehit” para gadis di sekolah. Mereka terkesan tidak pernah bisa serius, menganggap semua hal sebagai lelucon, dan punya ribuan akal bulus. Yang ada di kepala mereka hanyalah bagaimana caranya agar bisa bercinta dengan lebih banyak siswi. Klise dan stereotype? Tentu saja.   

Singkat kata, didorong oleh nafsu bejat yang menggebu-gebu serta semangat kawula muda yang menggelora, Shawn dan Nick memutuskan untuk melewatkan kesempatan mengikuti camp pelatihan football dan malah memilih untuk mengikuti camp pleatihan cheerleader. Alasannya? Tentu saja untuk mengejar gadis-gadis cheerleader. Semua berjalan sesuai rencana. akal bulus kembali digunakan dan kata-kata manis kembali dikeluarkan. Sampai akhirnya salah satu dari mereka benar-benar jatuh cinta pada salah seorang anggota cheerleader. Klise dan gampang ditebak namun tetap menyenangkan.  

Fired Up! memiliki kualitas sebagai komedi remaja berbumbu roman yang menjadikanya layak disejajarkan dengan American Pie. Humor yang ditampilkan benar-benar syegar khas anak muda. Dialog-dialog yang nakal hadir sebagai aksen yang diaplikasikan dengan tepat. Aspek romance juga digarap dengan baik dan tetap bernuansa cheesy, tentu saja. Ditambah lagi dengan soundtrack yang berisi lagu-lagu hits kegemaran anak nongkrong MTV. Lengkap dalam satu paket.

Bila anda merupakan individu yang bodoamat dengan Hari Valentine seperti Fifa, film ini untuk anda. Atau anda ingin bernostalgia, mengingat kembali hal-hal memalukan yang pernah anda lakukan semasa SMA? Film ini untuk anda. Atau anda hanya sekadar ingin menghabiskan Hari Kasih Sayang bersama pasangan anda, menonton di rumah sehabis menyantap makan malam, bersama-sama menertawakan kekonyolan demi kekonyolan, lalu berakhir dengan pelukan hangat dan sedikit ciuman? Film ini juga untuk anda.

Tidak ada salahnya sesekali menikmati hal-hal bodoh (yang menghibur) karena pada dasarnya--- bgst lupa matiin kompor~   

Anda bisa mendapatkan film ini di sini.

      5.       Love & Other Drugs (2010)

Film berikutnya di daftar ini adalah Love & Other Drugs yang dipilih oleh Amel. Awalnya, Amel merasa agak ragu dengan pilihannya karena, mengutip apa yang disampaikannya lewat Whatsapp, “Aku sebenernya rada minder sih… Soalnya (film ini) dari sisi rating ngga baguuus.”

Well, to be honest, dan ini sebenernya sudah lumayan sering saya sampaikan, saya tidak terlalu peduli dengan rating. Dan menurut saya, film pilihan Amel ini cukup bagus dan menarik untuk ukuran rom-com. Justru sebenarnya sayalah yang merasa agak minder ketika harus mengulas film ini karena Amel ini juga memiliki hobi menulis dan sering mengulas tentang film di blognya. Mudah-mudahan ulasan saya mengenai film ini, setidaknya, tidak jelek jelek amat bila dibandingkan dengan ulasan film yang sering ditulis oleh Amel.  

Mengenai alasannya memilih film ini, Amel mengatakan bahwa, “Film ini ‘menyentil’ banget buat aku, terutama tentang perspektif dalam menjalani hubungan. Kalo pengen menjalani hubungan, apalagi hubungan yang serius, ngga cukup cuma sekadar cinta aja, sekadar seneng-seneng, hubungan seks, dll. Menurutku, (adalah) gampang untuk mencintai seseorang. Tapi nggak semua bisa menerima kekurangan pasangannya, apalagi untuk ‘hidup bersama’ dengan kekurangan (yang dimiliki oleh) pasangan tersebut.” 

Well said.

“Meski dari sisi storytelling (film ini) nggak bagus-bagus amat dan masuk kategori erotic romance, pesan film ini bisa nyampe banget ke aku,” tambah Amel.

Saya sudah pernah menonton film ini sebelumnya namun agak sedikit lupa dengan beberapa detail hingga akhirnya saya memutuskan untuk menonton ulang film ini.

Love & Other Drugs menyoroti sepak terjang seorang pria bernama Jamie Randall yang berprofesi sebagai pharmaceutical sales representative untuk salah satu perusahaan farmasi ternama. Jamie adalah seorang pria dengan pesona yang sangat kuat hingga membuatnya bisa memikat para wanita dengan sangat mudah. Selain itu, kemampuannya sebagai sales representative juga cukup bagus. Di tengah pergulatannya dalam dunia penjualan produk farmasi, Jamie bertemu dengan seorang wanita pengidap Parkinson bernama Maggie Murdock. Keduanya kemudian menjalin hubungan. Hubungan yang awalnya cuma terkesan bersenang-senang ini kemudian menjadi semakin intens dan mulai menghadirkan konflik demi konflik yang harus dihadapi oleh mereka berdua.

Saya sepakat dengan Amel bahwa film ini tidak memiliki plot atau storytelling yang terlalu mengesankan. Plot dikembangkan dengan berpegang teguh pada berbagai klise yang sudah sering muncul di beragam film bergenre rom-com. Isu yang diangkat oleh film ini sebenernya cukup serius namun sayangnya harus dikemas dalam bingkai rom-com yang terkesan cukup cheesy. Kendati demikian, secara kesuluruhan, film ini cukup layak dijadikan pilihan tontonan di Hari kasih Sayang. Ceritanya memang klise namun menurut saya cukup digarap dengan baik.

Film ini tentang seorang pria yang menyia-nyiakan potensinya untuk menjadi lebih baik. Film ini juga tentang seorang pria yang bertemu dengan ‘lawan (jenis) yang sebanding’ yang akhirnya mampu mengubah jalan hidupnya. film ini tentang mengatasi berbagai masalah yang mungkin muncul dalam suatu hubungan. Porsi komedi ditampilkan dengan kadar yang cukup. Demikian juga dengan bagian-bagian yang mungkin akan membuat anda merasa sedikit sedih atau tersentuh. Akhirnya, seperti kata Amel, mencintai seseorang itu mudah. Namun untuk bisa menerima kekurangannya, dibutuhkan lebih dari sekadar cinta. Mungkin seperti itu.

Love & Other Drugs bisa anda dapatkan di sini.

      6.       Liza, the Fox-Fairy (2015)

Sewaktu saya mendatangi kediamannya di Wasteland, Benji sedang sibuk memilah-milah sampah yang berhasil dikumpulkannya hari itu. Benji ini adalah salah seorang penikmat film yang cukup saya percaya kredibilitasnya. Film-film yang pernah ditontonnya dan menurutnya berkesan biasanya kemudian akan beliau ulas di blognya. Selain menyukai film, Benji juga saya kenal memiliki ketertarikan terhadap dunia musik. Beliau juga memiliki hoby lain yang, demi nama baiknya, terpaksa tidak bisa saya ungkapkan di sini (hoby yang satu ini rumornya berkaitan erat dengan lightstick).  

Ketika saya bertanya perihal film apa yang menurutnya cocok untuk ditonton saat Hari Kasih Sayang nanti, Benji merekomendasikan sebuah film romcom bernuansa fantasy asal Hungaria. Film berjudul Liza, the Fox-Fairy ini dipilih oleh Benji karena, saya mengutip ucapan beliau, “Sekalipun kita kesampingkan unsur-unsur ‘kekinian’ yang disertakan dengan jenial adanya, mulai dari terbuai belaian kapitalisme hingga tips-tips bapuk a la para [self-proclaimed] pakar percintaan dalam kisahnya, Liza, the Fox-Fairy tetaplah hiburan yang meriangkan (dan gelap), entah itu untuk yang percaya bahwa si belahan jiwa suatu hari akan menampakkan diri, maupun yang tidak~”

Sembari menunggu Benji selesai memilih barang-barang yang menurutnya masih bisa dipakai dari tumpukan sampah di hadapannya, ada baiknya saya ceritakan sedikit mengenai tentang apakah Liza, the Fox-Fairy ini sebenarnya.

Tokoh utama dalam film ini adalah seorang perempuan bernama Liza. Liza bekerja sebagai perawat di sebuah rumah besar yang dihuni oleh seorang janda tua. Suami sang janda sudah lama meninggalkan dunia yang fana ini dan sang janda tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya dikarenakan sakit yang dideritanya. Pada ulang tahunnya yang ke-30, Liza pergi ke restoran burger untuk menemukan cinta sejatinya. Sayangnya, bukan cinta sejati yang ditemukannya melainkan kemalangan demi kemalangan yang datang silih berganti setiap harinya. Namun Liza tak kunjung menyerah. Meski korban mulai berjatuhan, Liza tetap bertekad untuk menemukan belahan jiwanya. Mampukah Liza meraih mimpinya? Apakah dia akhirnya bisa bertemu dengan pangeran idamannya? Jawabannya bisa anda temukan di film yang dikemas dengan cukup unik ini.

Secara visual, Liza sedikit banyak akan mengingatkan anda pada karya-karya Wes Anderson, terutama pada penggunaan warna-warna pastel, komposisi gambar yang simetris, serta tata artistik yang terkesan quirky. Di sisi lain, film ini juga sedikit banyak mengingatkan saya pada karya-karya Jean-Pierre Jeunet, terutama pada karakter utama berupa perempuan yang asik dengan pikirannya sendiri (Liza sedikit banyak digambarkan memiliki karakter yang mirip dengan Amelie) dan narasi yang terkesan agak whimsical. Penggabungan unsur komedi gelap dengan roman berbumbu fantasy juga saya nilai merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan suatu kisah percintaan yang tidak hanya eksotis namun juga sangat menyenangkan untuk diikuti.

Film ini juga menjadi sangat menarik karena ada begitu banyak detail kecil yang muncul sebagai pemanis namun justru, pada saat yang bersamaan, bisa memperkuat plot utama secara efektif. Ada beberapa isu serius yang dituangkan ke dalam plot namun tidak terkesan membosankan karena ditampilkan dengan gaya bersenang-senang.

Liza, the Fox-Fairy akan menjadi pilihan yang cocok bagi anda yang sedang memimpikan untuk bertemu dengan belahan jiwa, pernah memimpikan untuk bertemu dengan belahan jiwa, atau bahkan sudah menemukan belahan jiwa namun masih suka bermimpi. Pada akhirnya, cinta adalah sesuatu yang menungg---

“Bor, tolong ambilin kunci pas di laci bawah lemari,” ucap Benji dengan suara berat.

Film ini bisa anda dapatkan di sini.

      7.        Love Exposure (2008)

Film terakhir dalam daftar ini direkomendasikan oleh salah seorang movie blogger yang sudah tidak perlu lagi dipertanyakan kredibilitasnya. Tommy Surya Pradana telah mengulas tentang film di blognya sejak era Muromachi. Mengingat reputasinya tersebut, maka akan sangat salah bagi saya jika saya tidak melibatkan beliau dalam proses pembuatan daftar ini.

Saat saya hubungi via DM Twitter untuk meminta rekomendasi mengenai film apa yang menurut beliau cocok ditonton ketika Hari Valentine, Tommy memilih sebuah judul yang cukup mengejutkan. Berikut saya kutip pernyataan beliau waktu itu.

“Jika anda dan pasangan sama-sama orang yang sedikit bitter, twisted, dan ga serius serius amat (apalagi dengan hal-hal yang berbau religi), menghabiskan waktu seharian menonton Love Exposure (2008) dijamin akan memperkuat rasa cinta kalian berdua dengan ide-ide yang asu dan romantik secara bersamaan.”

Ini pilihan yang menurut saya sangat menarik dan cukup berani. Sutradara Love Exposure adalah Sion Sono, salah satu sutradara Jepang yang dikenal lewat karya-karya kontroversialnya seperti Cold Fish (2010), Noriko’s Dinner Table (2005), Strange Circus (2005), dan Suicide Club (2001). Meski sudah cukup sering menemukan Love Exposure diulas di berbagai tulisan, saya belum pernah menonton film ini hingga saat ini. Setelah direkomendasikan oleh Tommy, mau tidak mau saya harus menonton film ini agar dapat menuliskan ulasan singkat untuk daftar kali ini.

Love Exposure mangangkat kisah kehidupan Yu Honda, seorang remaja laki-laki yang kebetulan masih berstatus sebagai pelajar SMA. Ketika ibunya meninggal sewaktu Yu masih anak-anak, ayah Yu memutuskan untuk menjadi pendeta dan menyebarkan kasih sayang lewat khotbah-khotbahnya. Yu dan ayahnya hidup dalam kedamaian hingga akhirnya pada suatu hari seorang wanita hadir dalam kehidupan mereka dan mengubah semuanya. Sejak saat itu, sikap ayah Yu berubah drastis. Setiap hari Yu dipaksa untuk mengaku dosa hingga akhirnya Yu bertekad untuk berbuat dosa sebanyak mungkin. Dalam petualangannya mengumpulkan dosa, Yu bertemu dengan seorang perempuan bernama Yoko. Yu menganggap Yoko sebagai figur Maria yang ia cari selama ini. Apa yang terjadi berikutnya akan membuat anda terkejut~

Seperti yang bisa anda lihat, premis Love Exposure cukup ‘nakal’ dan mungkin akan membuat beberapa orang tidak nyaman. Untungnya, dibandingkan dengan judul-judul lain yang saya sebutkan di atas, film ini masih tergolong cukup ‘sopan’. Namun tetap saja, bukan Sion Sono namanya jika tidak membumbui plot dengan hal-hal bersifat kontroversial.

Plot yang sebenarnya cukup terkesan serius dan agak ‘sakit’ ini menjadi menyenangkan untuk diikuti karena dikombinasikan dengan unsur humor absurd ala Jepang dalam porsi yang pas. Nuansa romantis dan tragis juga bisa diracik dengan baik hingga berhasil menghadirkan suatu tontonan yang mungkin bisa memberikan pengalaman menonton yang baru bagi anda.    

Film ini menunjukkan bahwa ada kalanya cinta bisa mengubah seseorang menjadi sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahwa orang bisa saja melakukan apapun, literally apapun, untuk mendapatkan so-called cinta sejati. Saya sepakat dengan Tommy bahwa film ini cocok untuk anda yang menyukai hal-hal beraroma bitter, twisted, dan humor absurd.

Silakan dapatkan filmnya di sini.

Selama ribuan tahun manusia berusaha mendefinisikan apa itu cinta. Para penyair berusaha menggambarkan cinta lewat berbagai tulisan mengenai mata yang bersinar layaknya kejora atau bibir yang merekah layaknya kuntum bunga. Para musisi berusaha menjabarkan makna cinta lewat potongan demi potongan lirik mengenai tangisan karena rindu atau keinginan untuk terbang bersama sang kekasih dan menggapai mentari. Demikian juga halnya dengan para sineas yang berusaha untuk mencari tahu apa arti cinta yang sesungguhnya lewat sajian audio visual.

Namun pada akhirnya semua orang memiliki definisi masing-masing mengenai cinta. Namun pada saat yang bersamaan, tidak ada yang benar-benar mampu mendefinisikan apa cinta itu sebenarnya.
Ketujuh film yang saya rekomendasikan kali ini mungkin bisa anda jadikan tontonan alternatif saat merayakan Hari Kasih Sayang kelak bersama siapapun atau apapun yang anda sayangi, termasuk diri anda sendiri. Karena, seperti kata Trent Reznor, “Love is not enough~”

Anda juga butuh makan~

Sekian dan terima kasih.   
   



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar