Senin, 24 Agustus 2015

Her

Sekitar seminggu yang lalu saya akhirnya berkesempatan menonton Her, film terbaru garapan salah satu sutradara favorit saya selain Fincher, Spike Jonze. Sesuai dugaan, film ini ternyata membekas cukup dalam dan sedikit ‘meresahkan’ saya. Sebenarnya sudah banyak kabar yang saya dengar berkaitan dengan film ini sebelumnya. Betapa saya harus menonton film ini karena sangat bagus kata banyak orang. Tapi saya selalu menunda menonton film ini. Selain karena malas dan belum mendapat momen yang pas, ada alasan lain mengapa saya seolah-olah menghindari menonton film yang satu ini. Tapi akhirnya toh mau tidak mau saya ‘terpaksa’ menonton Her. Karena tetap ada sedikit rasa penasaran, tentu saja. Setelah menonton, gejolak untuk mereview film ini sangat kuat. Seperti halnya review Frank, saya ingin menulis review dengan gaya yang agak berbeda untuk Her. Lalu saya tiba-tiba saja mendapat ide, bagaimana bila review kali ini saya mengajak orang lain untuk membahas film yang dimaksud.

Ide ini muncul karena tema Her adalah tentang ‘hubungan’ atau ‘relationship’. Her menceritakan hubungan ‘spesial’ antara Theodore, seorang pria yang berada di ujung perceraian dengan sebuah OS (Operating System) bernama Samantha. Singkatnya, saya ingin menulis review tentang Her di mana dalam review tersebut saya bercakap-cakap dengan orang lain dan membahas film ini. Hal ini saya lakukan untuk memperkuat gagasan Her tentang relationship itu tadi. Ya intinya kira-kira seperti itu. Masalahnya, siapa yang akan saya ajak untuk membahas film ini?

Akhirnya, seseorang mengajukan diri dan bersedia untuk membahas film ini bersama saya. Beliau adalah Sabda Armandio Alif, seorang (((penulis muda berbakat))) yang kebetulan juga sangat saya kagumi karena keahlian berceritanya yang kadang-kadang sungguh di luar dugaan. Singkat kata, pada 19 Agustus 2015, saya dan Dio akhirnya memutuskan untuk melakukan percakapan via Whatsapp dalam rangka membahas Her. Berikut saya tampilkan percakapan yang kami lakukan saat itu sebagai sarana untuk memberi sedikit gambaran mengenai Her. Percakapan ini telah saya edit sedemikian rupa untuk mengurangi potensi spoiler tanpa menghilangkan esensi dari obrolan kami ketika membahas film ini. Selamat membaca.

Dio: Ini maksudnya gimana don? Mau curhat apa gimana? Hahahaha [emot nangis]
Dony: Bera wqwq. Udah bikin kopi Io? Nga. Jadi gini. Her ini kan film yang intinya tentang interaksi manusia di era informatika. Nah, untuk memperkuat kesan itu, maka saya selaku penggugat yang kemudian akan disebut sebagai pihak pertama
Dio: Lagi pesen kopi sepeda. Bera kwkwjwwkwkk
Dony: Mengajak saudara Dio untuk bersama sama… ya intinya mah… shall we? [emot mata love love]
Dio: Yauda~ Iya bener
Dony: Jadi~ Apa ya pembukanya. Wqwq
Dio: Pembukanya intro wqwq. Bentar, bayar kopi dulu
Dony: Wa (saya – red.) tau film Her kan udah lumayan lama yes. Hype nya lumayan kenceng pas rilis dan kata banyak orang bagus. Tapi wa selalu nunda nonton karena ya udah tau lah ya. Nah, kita ngobrolin film ini untuk apaan wa juga nga ngerti sebenernya wkwk. Sinopsis di skip aja yes. Io cerita dong kenapa bisa tertarik buat nonton Her. Wkwk
Dio: Gua sendiri nonton film ni pertama kali tengah 2014, kalau nga salah. Dengar dari cerita teman~ Nonton dan, yaudah… Wqwq ga ngira akan dibuat gitu sih. Awalnya qupikir akan mengeksploitasi tema (((eksistensialisme))) tapi ternyata lebi mengedepankan (((perasaan))) dan asyik tuk diikuti~
Dony: Hahaha. Bener. Wa sepakat. Trus trus~
Dio: Suatu hubungan LDR yang terlalu LDR [emot nangis] Terus… Apaan wqkwjqkqkqk. Semacam apa ya… Mengembalikan kata ‘move on’ ke tempatnya, mungkin. Kita kan sering denger kata move on belakangan ini, dan aing (saya – red.) sendiri suda tida lagi menemukan kesedihan di dalamnya. Hehe maksudnya, mungkin karena suda terlalu sering digunakan sehingga…
Dony: Nah. Ok. Menurut lu sendiri, kira kira film ini apaka suda bisa menjadi gambaran relationship masa kini?
Dio: Iya, kayaknya. Ini kurang lebih kan sama aja kayak LDR yang ketemu di medsos ga pernah ketemu sama sekali dan cuma bercakap-cakap lewat telepon? Apaka masdon… xixixi
Dony: Hahaha. Ya. Iya sih. Sekarang relationship ada pengaruh dari medsos juga ya. “Jauh di mata dekat di medsos”. Wqwq. Wa juga sempet tertarik ngebandingin hubungan Theodore dan Samantha sama hubungan H.A.L. 9000 dan Dr. Dave Bowman di 2001: A Space Odyssey. Ada tanggapan mungkin dari lu?
Dio: Bentar sebats duls wqwq.
Dony: Haha
Dio: Oke jelas ada sih Don kayanya. Mungkin lebih ke ini apa. Mulanya kita menciptakan alat untuk bertahan hidup, tapi kemudian kita bergantung pada alat itu. Karena kita kan mudah terbiasa sama apa aja? Terus kita membiasakan diri… Di Her, percakapannya ena betul…
Dony: Yha~
Dio: Gua kira Spike Jonze sangat bisa menguliahi penontonnya perihal (((eksistensialisme))) tapi dia nggak melakukannya. Tapi ya itu tadi, dia nggak melakukannya. Gua sendiri bukannya mikirin pertanyaan si element software (yang suda kelewat sering kita dengar) gua jadi mikir gini setelah nonton: mungkin seharusnya kita tumbuh dalam percakapan; dalam cerita-cerita menarik yang dibagi atau apaan kek, bukan dari kekerasan.
Dony: NAH~ Hahaha
Dio: Menurut lu gimana?
Dony: Iya. Wa juga awalnya sempet mikir, ini film bakal kejebak di ‘stereotip’ eksistensialism. Tapi ternyata Jonze mampu ngolah dari sudut pandang beda. Perasaan. Itu yang bikin Her rada 'fresh' sih meski tetep ada hint tentang hubungan manusia dengan AI tapi nga dibahas teknis atau filsafatnya. Kayaknya yang dituju emang emosi sih ya.
Dio: Itu dia~ Jadi menarik karena Samantha dikasih intuisi. Dia punya intuisi: gudang isinya kardus berantakan. Dari obrolannya dengan Theodore lahirlah akal~ Dikasih fakta-fakta. Akal menata ulang kardus itu. Nah, pas kardusnya udah rapi… Jeng jeng~ Samantha punya bayangan soal tubuh~ kenikmatan~ pas intuisinya mulai hanyut, akal ngehajar dia~ ditabok gitu wqwq: kamu nga punya tubuh. Brutal~ [emot nangis]
Dony: Iya. Bera. Yang (scene) pas dia milih nama Samantha itu menurut wa menarik. Jonze njelasin teknis Samantha milih nama dari beberapa opsi melalui kemampuan search. Ini teknis. Tapi di waktu yang bersamaan, Jonze nunjukin kemampuan Samantha buat (memutuskan) milih nama itu karena dia ‘menyukai’ nama tersebut. Ini udah masuk ranah emosi. Dan itu ditampilkan di 1 scene.
Dio: Hhhh :’(
Dio: Soal tubuh ini… Lama lama bisa bahas Focault… Tubuh adala sumber kenikmatan~ Bukan sumber dosa~ Eh gitu kan ya wkwkwkwk udah ah lupain~
Dony: Pertanyaan besarnya kali ya klise ya: apaka AI bisa memiliki perasaan.
Dio: Iya Don itu dia
Dony: Hahaha Focault
Dio: Gimana kalo kita manusia yang mengunggah pikiran kita ke PC? Kita punya perasaan. Apa PC nya nanti jadi punya perasaan? Bisa merasa kehilangan? Heheh
Dony: Nah, yang menarik, anggap saja jawabannya iya. Ternyata, perasaan si AI ketika dikonfrontasikan dengan perasaan Theodore ujung ujungnya tetep menimbulkan konflik. Jadi wa sempet berkesimpulan, meskipun judulnya Her, film ini tentang Him sebenernya
Dio: Jadi?
Dony: Konfliknya sebenernya tentang Theodore yang mengalami ketidakmampuan dalam menjalin hub emosional?
Dio: Iya wqwqwq tapi kan yang digambarin evolve itu si OS nya sampe akhirnya sang OS menyerupai Theodore?
Dony: Nah.
Dio: Si Theodore sendiri ga banyak berubah. Kayaknya. She and Him hahaha
Dony: Katakanlah si Samantha ini manusia lalu ketemu Theodore. Lalu mereka melakukan interaksi yang sama. Apaka~ Hahaha bera
Dio: Iya. Tapi gimana ya. Kalo Samantha manusia, dia ga akan senorak itu sih kayaknya. Dia udah lewatin banyak hal kan sampe (akhirnya) dia gede. Eh tapi kalo hubungannya lewat telepon aja, kemungkinan iya Don. Mungkin fokus hubungan Samantha dan Theodore itu adala kehadiran~
Dony: Tubuh itu tadi ya
Dio: Iya, apa ya, ada saat di mana percakapan aja ga cukup karena memang manusia dibikin gitu. Dan sentuhan mengisinya… Tapi itu bukan jaminan kalo mereka bisa bahagia kan? Suatu hari bisa bosen. Mungkin alasannya akan sama kaya si istri Theodore? Kenapa Theodore ga diceritain single aja? Kenapa dia harus dalam proses perceraian? Iya Don mungkin gitu.
Dony: Jadi nyambung ke ‘tubuh substitusional’ Samantha.
Dio: Pas si Samantha nyuruh temennya itu nemui Theodore, ternyata kan percakapan aja ga cukup, Theodore tetap merasa asing dengan si cewe sekalipun itu suara dan memori Samantha.
Dony: Mungkin perceraiannya buat memperkuat premis ketidakmampuan Theodore itu tadi kali yha
Dio: Iya, dan kalo dibikin sequel Her 2 gitu. Apaqa~ Bera sequel wqwqwq
Dony: Ya kayak lu bilang tadi. Move on. Memang awalnya Samantha yang evolve. Tapi akhirnya si Theodore evolve juga (dengan caranya sendiri). Segi teknis ntap lah ya warna pastel dan washed out. Set yang Apple-esque. Score nya juga ntap.
Dio: Theodore memandang layar dan nanya: Di antara kita, sebenarnya, ada apaaaaa~ aaaaaaa~ Iya warnanya ena dilihatque. Dan seharusnya jadi alternative qisa percintaan kali ya. Bukan lagi soal remeh kaya beda agama, tapi soal, kalo gua ga punya badan, lu tetep cinta eug nga. Apaan qlqjqkqkqkqkqkqkwkwkwk. Tubuh Theodore mengikat Theodore di dunia nyata, sementara Samantha bisa jalan ke mana aja. Tapi ternyata dua duanya bisa sedih cuma karena persoalan sepele. Aing suka pas opening tuh ena ya. Krrrrt krrrrk krrrrt.
Dony: Yha. Haha. Ntap. Oya, Io, soal profesi Theodore ini juga menarik.
Dio: Si pembuat OS sadar betul, pekerja kaya Theodore butuh rumah lain tempat mengikatkan diri~ Nah Iya hahahaha bera udah di masa depan tapi orang merindukan tulisan tangan~
Dony: Menulis surat untuk orang lain. Jonze seolah olah pengen bilang…
Dio: Pengen bilang… “mi rebus telor setengah mateng”
Dony: Hahahaha Jonze seolah olah pengen bilang “Ini orang yang ngerti manusia, paham orang lain, tapi gagal memahami diri sendiri.” Yang wa tangkep gitu.
Dio: Iya don, dari obrolan dia sama penjaga (FO tempat kerja Theodore) itu siapa namanya yang suka sama suratnya? Tersirat demikian~
Dony: Buku kumpulan surat Theodore > buku kumpulan surat Kartini. It’s just letters~
Dio: Hahahahahah. Sedih juga sebetulnya.
Dony: Sasaran film ini emang kaum urban kali ya. Makanya mungkin banyak yang (bisa) related (nyambung).
Dio: Nah iya. Jadi gini, dulu pas eug (saya - red.)sering bolak balik naik kereta sering kepikiran. Mereka dempet dempetan dalem gerbong, pagi ngantuk sore cape. Dan di dalem gerbong ini jadi menarik karena itu tadi soal rumah, mereka berusaha menyamankan diri di dalem gerbong. Di situ justru mereka keliatan bebas, menurut eug.
Dony: Mantap~
Dio: (gerbong adalah) Tempat lari dari masalah kantor dan masalah dapur~ wqwqwq
Dony: Kita semua mencari~
Dio: Dan si OS ini mungkin juga begitu, ngasih media ke orang yang ga punya tempat buat itu hhhh. Mencari oksigen~
Dony: Escape~ Hahahaha
Dio: Bagian favorit u di film ini yang mana?
Dony: Banyak sih. Tapi yang paling suka yang Theodore merem dan (bergerak) dipandu sama Samantha.
Dio: Apaqa ada pengala… xixixi
Dony: Hahahaha nga. OS menawarkan kenyamanan. Namun setela interaksi berjalan Theodore justru merasa ‘ta nyaman’. Apaka yang namanya relationship pada intinya adala tentang ketidanyamanan bukan justru tentang kenyamanan? Wqwq. Pengalaman~ hahahaha
Dio: Gini Don, qu percaya kita tida bisa memahami orang lain (dan orang lain) tida bisa betul betul memahami kita. Itu masalahnya. Di mana pun mungkin kita akan menemukan celah yang bikin kita tida nyaman sebab… Kita… Berjalan… Sendiri… Sekalipun lagi berdua. Hehe. Hahahaha.
Dony: ANJAY~ INI MAH BUAT CLOSING KUDUNYA NAMPAR BANGAT WQWQ
Dio: Apaqa mirip… Dengan… Theodore dan Samantha… Atau qmu bocah yang berkata kasar (di game yang dimainkan oleh Theodore)… Apala relationship kita cuma ego di dalam bungkus kulit. Bungkus (rokok) filter dikasih nyawa juga bisa kaya orang wqwq
Dony: Indeed. Serupa dengan apa yang saya tangkap dari film ini. Oya Io, satu lagi
Dio: Apaan :’( 
Dio: Qmu mau mulai curhat? Uwuwuwuw :3
Dony: Hahaha nga. Apaka Her sedi karena Thedore ‘menyedihkan’ atau Her sedi karena kita dihadapkan pada gambaran relationship modern?
Dio: Wadu ini susa nih… sebat duls~
Dony: Atau kamu mungkin punya opini sendiri kenapa film ini sedi? Roko wa abis wqwq
Dio: Jujur sahaja, di satu titik, aing seolah Theodore, bukan dalam hal percintaan tetapi dalam gampang ga ngerti wqwq soal relationship, eug ga perna merasa serepot itu sih, tapi jadi sedi karena di luar sana ternyata ada yang begitu. Masalah modern lahir justru dari apa yang kita bikin dan kita pikir bisa membantu kehidupan kita. Ironis betul~ Tetapi cukup membuktikan kalau kita mungkin selamanya sedih karena kita ternyata dikutuk dalam ketidak-tahuan yang panjang hhhhh wqwq. Itu cukup membual~ Kalo u kenapa sedi Don? Sampe menunda nunda (menonton)… Selain yang u jelasin di tweedter.
Dony: Karena kayak ngaca anjis surem. Asli. Wqwq
Dio: Hahahaha duh. Hmm
Dony: HAHAHA
Dio: Ngaca ke (karakter) Theodore atau ke hubungan Theodore dan Samantha?
Dony: AING NGA BAKAL CURHAT FYI AJA NIH YA hahah
Dio: U perna punya pacar bersuara begitu???
Dony: Ke karakter Theodore nya sih
Dio: Hmm… Yauda~ wqwqwq nah nah
Dony: Sedikit banyak wa (ngerasa) kaya si Theodore. Ya itu tadi kurang bisa ngehandle (hubungan) emosional.
Dio: Meminjam istilah penjaga (ditempat kerja Theodore) itu “separuh wanita”? wqwq
Dony: Hahahaha. BERA BENER BANGET ITU
Dio: Tapi gini Don. Gitu aja… Hehe
Dony: (gitu) Gimana lah bera wqwq
Dio: Berkaca pada cinema. Ga gimana gimana~
Dony: Iya. Menyama nyamakan agar supaya. Hahaha
Dio: Apaqa qmu mudah larut seperti gula dalam kopi panas? Apaan lagi ya soal film. Lah kita juga ini kaya Her Don
Dony: Hahaha ilusi kedekatan~
Dio: Tapi serius, tiap orang harusnya cemas sebab ternyata selalu ada lapisan tipis antara dia dan orang lain. Beruntunglah qta bisa ngegombal, seolah mencintai orang sedalam dalamnya, padahal tida perna sedalam itu hhhh  :’(
Dio: Apalagi ini antara dia dan benda mati… laif~
Dony: SUBHANALOVE DIO~ [emot nangis tiga kali]
Dio: Ngetiknya gemeteran ini [emot nangis empat kali]
Dony: Hahahaha
Dio: Hahaha ada lagi ga soal mengenai perihal nganu? Oh iya bagian denting piano itu yang gubahan Samantha juga qusuka. Dia googling dulu kali ya nyontek partitur. Wqwq
Dony: Anjis hahahaha. Nyiptain musik bera
Dio: Iya kan beraaaaaa
Dio: Tapi masuk akal sih, kan apa yang kita upload itu anggaplah pengalaman atau memori kita. Nah Samantha ini cuma mengeluarkannya~ Ena ya jadi OS wqwqwq
Dony: Hahahaha. jadi OS. Ada OS dalam oshi. Wa juga suka desain lift-nya yang ada siluet pohon pohon. Nuansa organic dalam tampilan digital haha
Dony: Trus yang dia (Samantha) ketemu siapa itu yang udah meninggal trus dijadiin OS
Dio: Meninggal dijadiin OS… Orang ga bisa mati. Sedi  :’(
Dio: Akherat ternyata hanya sirkuit
Dony: Anjay~
Dio: Terapkan di Bangka Don…
Dony: Baiqla. Closing Io. Sebelum terlalu dalam~
Dio: Apaan terlalu dalam wqwqwq. Maaf ya kalau tida sesuai hhhh :’(
Dony: Nga apa apa. Kalo mau mencari kesesuaian mah ke biro joodoh. Sok Io. Closing. Kenapa film ini ‘penting’? Kenapa orang sebaiknya menonton Her?
Dio: Apaqa punya pengalaman… Biro jodo???
Dony: LO MAH MANCING MANCING MULU DARI TADI HAHAHA
Dio: Kenapa ya? Hahaha buat berkaca pada cermin yang kotor~ Wqwqwq. Ini ga penting penting amat sih. Tapi
Dony: Bera hahaha. Tapi?
Dio: Eh ini ada tapinya nih. Bentar nih mikir dulu.
Dony: Sampis wqwqwq (22:59)
Dony: Dio is typing (23:11)
Dio: Wqwqwq. Belom. Hhhh (23:11)
Dony: Hahaha. Yauda. Qu menunggu~
Dio: Theodore bisa nulis surat yang indah buat orang yang belum pernah dia temui. Dia berhasil mewakili perasaan mereka, dan sesungguhnya dia tahu, dia sedang melakukan kebohongan besar sebab dia sendiri terlibat dalam konflik ta berkesudahan dengan dirinya. Tidakkah ini mengingatkanmu dengan… Seseorang? Wqwqwq. Film ini ‘penting’ karena mungkin saja kita sudah ada sejak lama di era Her: di mana kehadiran fisik seseorang penting sekali, untuk merasakan (((cinta))). Dan cinta cuma ada di situ, di fisik. Kita sadar ini. Tapi sialnya, kita bisa jatuh cinta kepada siapapun, bahkan kepada orang yang cuma bisa kita temui di dunia maya. Seseorang yang jelas jelas nggak bisa setiap hari mengelus rambutmu atau menyentuh tengkukmu atau bercinta denganmu. Seberapa siap kita tidak lagi merisaukan sentuhan fisik atau jarak? Dan mungkinkah kita bisa memahami orang yang tidak pernah kita temui sementara kita yang ketemu diri kita tiap hari pun tetap nggak bisa memahami diri kita sendiri? Dan kembali ke pertanyaan klise: emang cinta apaan sih~ Singkatnya~ Bodo amat~ Gimana kalau ternyata cinta gak ada? Wqwqwq
Dony: Yha robb~ Ok. Ini tar wa publish di blog yes. Diedit seperlunya demi menghindari spoiler tanpa mengurangi esensi~
Dio: Iyaaaa bebas~
Dio: Gitu aja sih Don semampu aing [emot nangis tiga kali]
Dio: Ga kuat juga nontonnya hehe. Males ngulang nonton lagi wqwq.
Dony: Kami selaku panitia menyampaikan terimakasi yang sedalam dalamnya lautan hindia~
Dio: Jadi kita bisa mulai sex by text…
Dony: Apaka ada pengalaman~
Dony: Xixixi~
Dio: Beraq wlqkwkqkqkqkqk
Dony: Mampus hahahaha
Dio: Ga sesurem situ kayanya uwuwuwuw
Dony: Bngst wqwq. Sex by text tar tar lah kita bikin lagu bareng aja dulu. Yauda Io. Kalo mau moto sampah silakan… Kapan kapan kita ngobs (ngobrol – red.) lagi
Dony: Bahas Hegel
Dony: [emot nangis lima kali]
Dio: Hahahaha. NGA.

Ya kira-kira seperti itulah percakapan yang kami lakukan untuk membahas Her saat itu.

Her memang merupakan drama percintaan yang luar biasa. Premisnya mungkin sedikit klise namun berhasil dikembangkan dengan sangat baik sehingga tetap terasa unik dan segar. Dibandingkan dengan film Spike Jonze lainnya, Her mungkin masih termasuk dalam kategori ‘mudah cerna’. Meski demikian, film ini tak pelak lagi dapat memicu diskusi mengenai sejauh mana manusia bisa terlibat secara emosional dengan ‘benda mati’. Apakah OS benar-benar bisa memiliki perasaan? Apakah nilai interaksi antara manusia dengan OS sama dengan nilai interaksi antara sesama manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin sudah cukup sering kita dengar atau bahkan kita tanyakan sendiri. Dalam pandangan saya, Her berhasil memberikan perspektif ‘baru’ dalam kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Her memunculkan kemungkinan yang bisa jadi luput dari perhatian sebagian besar penikmat film genre sci-fi bertema hubungan manusia dengan mesin atau komputer. Mudah-mudahan, obrolan ringan saya dengan Dio di atas bisa sedikit memberi gambaran mengenai apa isi film ini sebenarnya.

Saya tidak menyesal akhirnya menonton Her.


Silakan dapatkan filmnya di sini.

Selasa, 04 Agustus 2015

Unfriended

Hai~ Halo~
Lama tak bersua. Hehe.
Yaudah segitu aja basa basinya.

Kali ini saya akan kembali mencoba memberikan review film yang baru saja saya tonton semalam, mumpung ingatan akan film tersebut masih hangat. Maaf bila review kali ini lagi lagi datang dari genre horror. Ya abisnya gimana ya~  :'(

Film yang akan saya bahas kali ini berjudul Unfriended, sebuah film horror remaja yang cukup mendapat perhatian beberapa bulan belakangan setelah It Follows. Mengapa film ini jadi pembicaraan mungkin karena kemasannya yang begitu dekat dengan kehidupan modern, khususnya di kalangan remaja. Ya. Unfriended adalah film horror yang menggunakan internet dan sosial media sebagai semacam katalisator dalam plot.

Internet tak pelak lagi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia modern. Di sisi lain, internet, seperti juga hal lain dalam kehidupan, selalu memiliki dua sisi. Saya tidak akan membahas mengenai sisi gelap internet atau bagaimana internet dapat menjadi suatu ancaman dalam kehidupan. Lupakan sejenak tentang Deep Web. Wajah mengerikan internet bisa terlihat dengan jelas di permukaan ketika semakin banyak orang yang memiliki ketergantungan untuk membagi segala hal, termasuk informasi pribadi di media sosial atau ketika pelanggaran privasi telah menjadi sesuatu hal yang kian wajar. Tak heran bila kemudian banyak orang yang memutuskan untuk menghapus akun media sosial yang mereka miliki atau lebih jauh lagi, mengalami apa yang dikenal dengan cyberphobia. Unfriended mencoba mengolah premis kehidupan online dan efeknya yang pada dasarnya memang mungkin sudah mengerikan menjadi suatu sajian yang jauh lebih mengerikan, dengan menambahkan elemen horror tentu saja.

Diceritaken~
Adalah Laura Barns, seorang remaja wanita yang melakukan bunuh diri di lingkungan sekolah. Aksi bunuh dirinya sempat direkam oleh salah satu siswa dan diunggah ke salah satu situs video streaming. Sementara itu, di Youtube ada video lain yang disebut-sebut sebagai video yang menjadi pemicu bagi Laura Barns untuk melakukan aksi bunuh diri.

Singkat kata, tepat setahun setelah aksi bunuh diri Laura, lima remaja yang kebetulan bersekolah di sekolah yang sama dengan Laura, yang juga mengenal Laura, melakukan video chat secara bersamaan melalui fasilitas Skype. Tanpa diduga, muncul seorang peserta lagi dalam kegiatan group video chat tersebut yang tidak diketahui identitasnya. Selanjutnya terjadi hal yang lebih mengejutkan. Peserta misterius tersebut mengaku bernama Laura Barns dan mulai melakukan hal-hal yang 'mengganggu' bagi peserta video chat yang lain.

Siapakah sebenarnya peserta video chat misterius itu? Apakah benar itu Laura Barns yang melakukan aksi bunuh diri setahun yang lalu? Ataukah peserta itu hanya merupakan keisengan yang dilakukan oleh salah satu peserta group video chat?

Plot Unfriended tidak benar-benar menampilkan sesuatu yang baru. Bagi penggemar horror, plot seperti ini tentu saja sudah cukup akrab. Tentang sekelompok orang (biasanya remaja) yang menyembunyikan rahasia tertentu yang kemudian rahasia itu justru digunakan untuk mencelakakan mereka. Plot yang hampir sama pernah disajikan di I Know What You Did Last Summer. Unfriended mengolah (ulang) plot seperti ini dengan sangat baik menurut saya. Ketegangan khas remaja cukup terasa intens ketika satu per satu dari mereka dikonfrontasikan dengan rahasia yang selama ini mereka simpan, termasuk rahasia tentang kematian Laura Barns sendiri. Bagi beberapa orang, mungkin reaksi para remaja ini terlalu berlebihan. Namun bila dilihat dari sisi lain, hal ini bisa jadi sangat wajar mengingat betapa (kebanyakan) remaja sangat mengutamakan image mereka. Bayangkan bila kalian punya satu rahasia memalukan dan teman kalian mengancam akan menyebarkan rahasia tersebut ke seluruh penjuru sekolah. Bisa jadi, bagi beberapa remaja, hal tersebut akan menjadi alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang 'nekat'. Bunuh diri, misalnya.

Reaksi 'berlebihan' juga timbul ketika para remaja ini mengetahui identitas 'asli' dari peserta video chat misterius tersebut. Satu dari mereka menganggap bahwa peserta misterius tersebut hanyalah internet troll, atau orang yang melakukan hal-hal iseng di internet untuk menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengguna internet yang lain. Beberapa dari mereka merasa ketakutan. Ada yang bahkan sampai menghubungi polisi. Ya. Mungkin reaksi para remaja ini berlebihan. Mungkin juga tidak. Bayangkan kalian melakukan chat dengan seseorang yang tidak kalian kenal di media sosial dan ternyata orang tersebut mengetahui segala sesuatu tentang kalian, bahkan hingga rahasia terdalam yang kalian sembunyikan.

Tapi tentu saja para remaja ini bisa mengacuhkan kehadiran peserta misterius tersebut, kan? Mereka bisa saja log out dari Skype, menganggap kejadian tersebut bukanlah sesuatu hal yang penting. Ini suatu opsi, kan? Sayangnya tidak semudah itu. Ada ancaman. Dan ancaman iitu terasa nyata. Celakanya lagi, peserta misterius ini menarik para remaja itu untuk ikut masuk ke dalam permainan yang diciptakannya. Di satu sisi, para remaja ini merasa sangat ketakutan. Namun di sisi lain, mereka juga merasa penasaran dan ingin tahu tentang kebenaran apa yang disembunyikan oleh masing-masing dari mereka. Dilema ini diolah dengan sangat baik di Unfriended.

Dari segi teknis, saya mendapatkan pengalaman 'baru' yang cukup menyenangkan ketika menyaksikan Unfriended. Film ini, dari awal hingga akhir, 'hanya' disajikan lewat layar laptop karakternya. Kalian hanya disuguhi window demi window dari berbagai aplikasi mulai dari Skype, browser, hingga laman Facebook. Pendekatan visual seperti ini memunculkan kedekatan yang begitu intens dengan karakter di film. Seolah-olah kalian menjadi peserta video chat lain yang ikut bergabung bersama karakter di film ini. Hiperrealitas seperti ini bisa jadi akan sangat menegangkan bagi beberapa orang, termasuk saya. Saya juga tidak bisa menyebutkan film ini sebagai film dengan genre found footage karena film ini bekerja dengan cara yang berbeda. Mungkin film ini terinspirasi dari genre found footage. Tapi bukan found footage per se. Ya. Sesuatu yang 'baru'. Oya, jangan khawatir dengan piksel pecah khas koneksi lambat yang muncul di awal film (logo Universal Pictures). Tidak ada masalah dengan film yang sedang anda tonton. Itu semata-mata hanya trik untuk menampilkan gaya visual yang lebih realis.

Unfriended mungkin bukan horror modern terbaik. Namun film ini jelas bekerja dengan sangat efektif. Bagi beberapa orang (khususnya remaja), film ini mungkin, bisa jadi, memberikan efek yang lumayan hebat. Seberapa jauh kalian mengenal teman-teman kalian. Rahasia apa yang mungkin mereka sembunyikan dari kalian. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin akan menghantui beberapa orang sehabis menyaksikan Unfriended. Dan percayalah, pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih mengerikan dibanding semua hantu gentayangan, baik yang online maupun yang tidak.

Silakan dapatkan filmnya di sini.

Sabtu, 21 Maret 2015

Pontypool

"It's only the English language that's infected."

Bahasa mungkin merupakan salah satu hal yang perannya sangat besar dalam kehidupan ini. Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan maksud dan keinginan, mengekspresikan perasaan dan mengaktualisasikan kondisi diri dengan menggunakan bahasa. Bayangkan, bagaimana anda bisa menyampaikan bahwa anda sedang #EhKangen bila anda tidak mengenal yang namanya bahasa? Bagaimana anda bisa menyebarkan gerakan #SavePindang bila anda tak mengenal yang namanya bahasa? Anda bahkan tidak bisa memesan bubur ayam, baik yang kemudian anda aduk atau tidak, bila anda tidak mengenal apa itu bahasa.

Pontypool merupakan film horror/thriller yang menggunakan pendekatan 'linguistik'. Tema film ini sendiri sebenarnya sudah cukup usang di ranah horror/thriller, utamanya di sub genre zombie. Singkat kata, Pontypool menceritakan tentang semacam wabah yang menyebar di sebuah kota kecil bernama Pontypool. Wabah tersebut menyebabkan manusia menjadi hilang kesadarannya, gila, menggumamkan kata-kata tertentu, dan bahkan mengkonsumsi sesamanya. Yang menarik, virus penyebab wabah itu bukan disebarkan lewat gigitan seperti pada film-film zombie kebanyakan. Virus ini juga tidak disebarkan melalui udara atau air atau medium lain yang umum digunakan pada film-film bertema zombie.

Virus penyebab wabah di Pontypool disebarkan lewat bahasa, lewat kata-kata tertentu yang diucapkan oleh mulut. Menariknya, yang bisa memicu penyebaran virus hanyalah Bahasa Inggris. Jadi ada dua pilihan yang bisa dilakukan untuk menghambat penyebaran virus, menggunakan bahasa tulisan atau menggunakan bahasa lisan selain Bahasa Inggris. Sampai di sini saja, premis film ini sudah sangat menarik, setidaknya bagi saya. Sisanya, Pontypool masih mengikuti pakem-pakem yang berlaku di film-film bertema zombie, karakter utama yang harus berusaha untuk survive, serangan zombie, serta munculnya karakter yang membantu karakter utama untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Yang membuat Pontypool menarik, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, adalah premisnya yang berbeda dengan film-film zombie kebanyakan. Sejauh ini, Pontypool merupakan salah satu film bertema zombie dengan premis yang sangat menarik menurut saya. Hal lain yang menarik dari Pontypool adalah sinematografinya. Film ini dibuat dengan budget yang relatif kecil, tentu saja dengan semangat indie yang sangat kental. Celakanya, meskipun budget yang dianggarkan relatif kecil, film ini tidak terkesan murahan. Sutradara sepertinya paham betul bagaimana cara menghasilkan gambar sekelas sineas Hollywood dengan pergerakan kamera serta framing yang sungguh efektif. Nilai lebih lain dari sinematografi di Pontypool adalah kesan mencekam bisa dibangun dengan sangat gagah tanpa harus banyak mengumbar adegan sadis atau gore khas film-film bertema zombie. Nuansa tegang juga ikut diperkuat dengan narasi di sepanjang film. Sebagai film horror/thriller yang menitikberatkan fokus pada bahasa, Pontypool berhasil membuat saya membayangkan situasi yang sedang dihadapi oleh karakter hanya melalui serangkaian kalimat yang diucapkan di sepanjang film, tanpa perlu melihat secara langsung apa yang sedang dialami oleh karakter tersebut.

Meski hadir dengan premis yang sangat menarik, sayangnya bagian terakhir Pontypool agak sedikit lemah. Namun hal ini tidak merusak kualitas film secara keseluruhan. Bila kamu merasa sedikit bosan dengan film-film zombie 'standar', Pontypool bisa dijadikan alternatif yang bisa (((membawa angin segar))) dalam kehidupan sinematik yang nggak sinematik-sinematik amat. Akhir kata saya menyarankan kamu semua untuk memperkaya (((diksi))) dan cobalah untuk menjaga lisan serta menggunakan kata-kata sebijak mungkin. Ya siapa tau kan ya. hhe...  

silakan dapatkan filmnya di sini.

Jumat, 28 November 2014

Michael



Sepanjang perjalanan saya menonton, setidaknya ada dua cara yang biasa digunakan untuk menggambarkan kengerian lewat media film. Pertama, secara eksplisit. Kebrutalan dan adegan-adegan sadis ditampilkan sedemikian rupa untuk menggugah rasa takut di benak penonton. Lalu ada pula film-film yang berusaha menampilkan kengerian dengan cara yang lebih ‘sopan’, minim kekerasan, dan membiarkan imajinasi penonton yang bekerja membangun sulur-sulur kecemasan di otak. 

Michael jatuh pada kategori kedua.

Premis film ini sederhana saja. Tokoh utama, yang kebetulan juga antagonis, adalah seorang pria bernama Michael. Sepintas Michael terlihat seperti pria pada umumnya. Karirnya sebagai karyawan di sebuah perusahaan asuransi tampak cukup gemilang. Penampilannya juga tak bisa dibilang jelek, meski tak terlalu tepat pula bila disebut menarik. pria biasa-biasa saja. Dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.

Michael tinggal sendirian di rumahnya. Sejak menit-menit awal film, kesan kesepian sudah dengan sengaja disematkan pada karakter ini. Tapi itu bukanlah suatu masalah. Pria kesepian tentu ada banyak sekali jumlahnya di luar sana. Pertanyaan mulai muncul ketika adegan Michael membuka pintu basement rumahnya. Pintu itu dilapisi busa yang berfungsi sebagai peredam suara. Ah, tapi ini juga tidak terlalu aneh. Beberapa orang mungkin juga melakukan hal yang sama pada pintu basement rumah mereka. Adegan dilanjutkan dengan Michael yang sedang sibuk menyiapkan meja makan. Sepertinya dia akan makan malam dengan seseorang. Kekasihnya, mungkin? Adegan lalu bergulir memperlihatkan Michael yang kembali turun ke basement. Kali ini dia membuka sebuah pintu yang terlihat memiliki pengaman ekstra. Pintu terbuka dan memperlihatkan ruang yang gelap di baliknya. Dari kegelapan, muncullah sesosok anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Siapa anak ini? mengapa dia berada di basement? 

Michael adalah seorang pedofil. Dia juga seorang sosiopat. Dan anak laki-laki yang disekapnya di basement adalah sarana pelampiasan hasrat seksualnya. 

Sudah. Premisnya cuma begitu saja. Sederhana sekali. Tapi film ini tidak sesederhana kelihatannya. Ada begitu banyak detail yang membuat film ini menjadi sangat kuat. Fokus utama film tentu saja adalah Michael sendiri. Pemilihan aktor yang memerankan karakter ini saya nilai sungguh tepat. Ekspresi wajah, gestur, serta intonasi bicara sang aktor berhasil menghidupkan karakter Michael secara sempurna. Sepanjang film, kalian akan disuguhkan beberapa detail menarik mengenai Michael. Tentang bagaimana dia terkadang bisa menjadi sangat otoriter pada hal-hal remeh. Tentang bagaimana dia dengan mudahnya mengabaikan rekan kerjanya yang berbagi meja dengannya ketika menyantap makan siang. Tentang betapa impulsifnya dia saat mencoba menggali lubang di tengah hutan hanya lantaran ‘anak asuh’nya terserang demam. Dan masih banyak lagi. Film ini tentang Michael, seorang pria dengan perhatian yang sangat besar pada detail, sangat terorganisir, dan sangat ‘penyabar’. 

Lalu bagaimana dengan anak laki-laki yang ‘diasuh’ oleh Michael? Jika kalian membayangkan bahwa kamar di mana anak tersebut disekap sebagai sebuah kamar yang kotor, pengap, dan menyerupai kandang babi, kalian mungkin akan sedikit kecewa. Kamar itu bersih. Perabotannya lengkap. Anak itu bahkan memiliki crayon dan buku-buku di kamarnya. Michael, terlepas dari penyimpangannya, benar-benar mengurus anak itu secara layak. Anak itu aset bagi Michael. Dan dia sadar betul bahwa dia harus menjaga asetnya sebaik mungkin. 

Penonton kemudian tiba pada suatu kenyataan yang cukup mengerikan, mematahkan hati, sekaligus membuat geram. Interaksi antara Michael dan anak laki-laki itu menjadi kian kompleks. Di satu sisi, anak laki-laki tersebut menjadi objek seksual bagi Michael. Namun di sisi lain, anak tersebut ternyata mulai menganggap Michael sebagai figur orang tua. Kedekatan yang berjarak ini sangat mengganggu. Sekali lagi, sangat menggangu.    

Film ini ditampilkan dengan gaya minimalis. Plot berjalan cukup lamban. Nuansa dingin dan terisolasi berhasil dibangun secara efektif melalui pergerakan kamera yang minim, nyaris stagnan. Hal ini semakin diperkuat dengan minimnya ilustrasi musik yang digunakan sepanjang film. Sutradara mengajak penonton untuk mengikuti keseharian Michael yang cenderung membosankan namun sekaligus dipenuhi dengan detail-detail yang sungguh menarik untuk disimak dalam rangka memahami karakter ini. Di satu sisi, sutaradara berusaha menyuguhkan karakter Michael sedekat mungkin kepada penonton. Di sisi lain, sutradara secara bersamaan juga berusaha untuk menjaga jarak antara karakter Michael dengan penonton. Sutradara seolah-olah ingin menyampaikan, hei, kenalin, ini Michael. Kalian harus mengenal dia lebih dekat. Tapi jangan terlalu dekat, kalian mungkin tidak akan menyukai apa yang kalian temukan nantinya. Sekali lagi, kedekatan yang berjarak. 

Seperti itu kira-kira. 

Yang membuat film ini jadi mengerikan justru adalah detail-detail yang tidak ditampilkan di layar. Tidak ada adegan yang mengumbar kekerasan fisik secara langsung pada sang anak, termasuk pencabulan. Tapi penonton tahu betul apa yang sebenarnya terjadi. Bila ingin dianalogikan, ketakutan yang dimunculkan lewat film ini mungkin sama dengan rasa takut yang kalian rasakan ketika mendengar lolongan anjing di tengah malam. Lolongan anjing itu mungkin aslinya biasa saja. Namun mengetahui mitos (atau fakta?) bahwa lolongan itu merupakan pertanda kehadiran makhluk halus, hal itulah yang memupuk rasa takut. Michael berusaha menunjukkan monster mengerikan apa yang bersembunyi di balik kehidupan seorang pria yang terlihat begitu normal. Dan hal itu berhasil. Sangat berhasil.      

Mengingat kemasan film yang sangat minimalis dan berpotensi membosankan, saya sarankan kalian menonton film ini ketika benar-benar sedang berada dalam kondisi yang mendukung. Ending film ini sendiri ditampilkan secara sangat menarik menurut saya. Michael adalah film yang cukup ‘mengganggu’ yang digarap dengan begitu piawai dan mungkin bisa membuka diskusi yang menarik sesudahnya. Ingin mengenal Michael lebih jauh? Silakan dapatkan filmnya di sini.   

Selasa, 21 Oktober 2014

Fright Pack

Hai. Halo. Jumpa lagi dengan saya. Ok. Langsung saja. Review kali ini tampil agak sedikit berbeda dari review-review sebelumnya. Biasanya, saya hanya membahas satu judul film saja. Namun kali ini, menyambut datangnya perayaan Halloween, saya akan membahas, tidak hanya satu, tidak dua, namun enam judul film sekaligus! (kalimat ini terdengar sounds like iklan produk panci multifungsi, ya. Ya sudahlah). Sebetulnya, agak sulit bagi saya untuk merekomendasikan film horror apa saja yang layak untuk kalian tonton pada kesempatan Halloween tahun ini. Namun setelah mengingat-ingat dari sekian sedikit judul film horror yang pernah saya tonton beberapa tahun belakangan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih keenam judul berikut sebagai film horror yang saya rekomendasikan untuk Halloween tahun ini. Daftar ini tidak berupa urutan. Jadi, satu film tidak berarti lebih baik ketimbang film yang lain. Ya sudah. Tanpa berbasa basi lagi. Inilah…

1. The Innkeepers

Salah satu tema yang boleh dikatakan cukup ‘usang’ dalam genre horror adalah tempat angker atau haunted place. Meski tema ini sudah sangat klise, The Innkeepers mampu mengolah tema ini menjadi suatu sajian horror yang tidak hanya lebih menarik, namun juga sangat brilian. Saya masih ingat bagaimana saya baru menyadari cerdasnya plot film ini setelah menonton film ini untuk kedua kalinya. Secara umum, cerita di The innkeepers berpusat pada dua orang penjaga penginapan. Penginapan ini dikenal akan sejarah serta reputasinya sebagai penginapan yang angker. Menit-menit awal kalian mungkin akan mengira bahwa film ini hanyalah film horror tentang haunted place yang standar, sama seperti halnya dengan saya. Yeah, right. Haunted place. What so special ‘bout it, eh? Paling juga tentang kejadian-kejadian aneh, roh penasaran, dsb, dsb, right? Akan tetapi qi sanaque, ternyata cerita bergulir semakin intens dan diakhiri dengan ending yang sangat memukau. The Innkeepers memang film horror ‘kecil’. Cenderung minimalis. Namun kekuatan terbesar film ini ada pada plotnya. Tentang bagaimana menampilkan suatu tema yang sudah terlalu biasa dengan menggunakan kemungkinan yang jauh lebih plausible. Film ini tidak hanya berfokus pada rasa takut, namun lebih menyoroti efek dari rasa takut tersebut. Dan semuanya jadi masuk akal setelahnya, yang mana hal ini bagi saya justru lebih menakutkan. Suatu nilai lebih yang mungkin tidak kalian temukan di film horror lain dengan tema serupa. Jika kalian mencari film horror bertema haunted place namun dengan detail yang sangat rapi, The Innkeepers sangat saya rekomendasikan. Dapatkan filmnya di sini.

2. Ils a.k.a Them

Tema home invasion juga menjadi salah satu tema favorit saya untuk genre horror. Dari Perancis, ada Ils atau yang juga dikenal dengan judul Them. secara garis besar, Ils memiliki plot yang tidak jauh berbeda dengan plot film horror/thriller bertema home invasion lain yang juga menjadi favorit saya, The Strangers. Bila kalian menggemari tema home invasion, Ils punya segalanya. Plot yang intens, momen-momen menegangkan, hingga ending yang mungkin sedikit mengejutkan. Film ini memang mengangkat tema ‘basi’ untuk genre horror, namun dikemas dengan sangat baik. Sinematografi serta ilustrasi musik latar yang digunakan mampu membangun atmosfir mencekam sepanjang film dengan sangat efektif. Penokohan yang natural menjadikan film ini semakin beliveable dan mencekam. Durasi filmpun dipangkas dengan tepat. Alur memang agak sedikit lambat di bagian awal, namun langsung menanjak menjadi marathon adrenalin penuh kengerian pada bagian-bagian berikutnya. Beberapa bagian hadir dengan elemen kejutan yang cukup ampuh untuk membuat tangan anda mencengkeram bantal sedikit lebih keras atau bahkan mengumpat tertahan. Silakan dapatkan filmnya di sini.

3. Lake Mungo

Film horror ‘kecil’ bergaya mockumentary dari Australia. Dalam Lake Mungo, kalian akan diajak menyelami berbagai kejadian supranatural yang muncul di seputar sebuah keluarga yang sedang berada dalam masa berkabung. Plot film ini cukup sederhana. Seorang remaja perempuan tewas tenggelam dan keluarganya merasa sangat kehilangan. Rasa kehilangan yang sangat mendalam ini kemudian disusul dengan munculnya berbagai kejadian yang tak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Keluarga inipun kemudian meminta bantuan seorang paranormal. Melalui investigasi, ditemukan fakta mengejutkan tentang remaja perempuan yang tewas tersebut. Lake Mungo menggabungkan elemen misteri dan supranatural secara tepat. Meskipun ditampilkan dengan menggunakan gaya mockumentary, percayalah, Lake Mungo jauh lebih bagus ketimbang Paranormal Activity bersaudara yang kian membosankan itu. Gaya mockumentary pada film ini digunakan dengan bijaksana sehingga mampu memperkuat plot dan atmosfir film secara optimal. Hal lain yang menarik dari Lake Mungo adalah closing creditnya. Salah satu closing credit terbaik untuk genre horror yang pernah saya lihat sejauh ini. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.

4. Triangle

Bukan. Ini bukan film horror tentang obsesi kaum hipster terhadap bentuk geometri segitiga. Triangle adalah film horror/thriller dari Inggris dengan bumbu misteri yang cukup kental serta twisty. Film ini menceritakan tentang sekelompok orang yang pergi berlibur dengan menggunakan yacht. Tiba-tiba, di tengah laut muncul badai misterius yang mendamparkan yacht yang mereka tumpangi di dekat sebuah kapal pesiar. Merekapun naik ke kapal pesiar tersebut dan kejadian-kejadian anehpun mulai bermunculan. Sekilas, Triangle mungkin terlihat seperti film horror biasa dengan setting kapal berhantu. Meski demikian, seiring bergulirnya cerita, muncul berbagai detail menarik yang akan menggiring kalian ke ending yang cukup mengejutkan. Plot bergulir dengan cukup intens. Ada berbagai kejutan baru yang muncul seiring berjalannya film yang berpuncak pada ending yang cukup 'holy shit!'. Triangle memadukan unsur kengerian thriller dan misteri penuh twist dengan sangat piawai. Bosan dengan film horror/thriller bertema kapal berhantu biasa? Triangle bisa jadi alternatif tontonan di Halloween tahun ini. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.

5. Trick ‘r Treat

Jika kalian mencari film horror dengan kemasan multiplot, Trick ‘r Treat bisa menjadi pilihan yang layak untuk dipertimbangkan. Di film ini, ada lima cerita yang terpisah namun juga saling berhubungan yang menggunakan elemen-elemen horror yang sudah tak asing lagi, mulai dari psikopat, urban legend, bahkan hingga makhluk-makhluk mitos mengerikan. Film ini tidak hanya menampilkan elemen horror secara baik, namun juga sangat menyenangkan untuk disimak. Tipikal film Halloween yang cocok untuk disaksikan beramai-ramai bersama teman-teman kalian sembari menikmati minuman beralkohol tanpa menyadari bahwa ada sesosok bayangan yang sedang mengintai kalian dari balik jendela. Plot yang terjalin dengan rapi, detail yang cukup memukau, beberapa twist mengejutkan, serta sedikit bumbu humor yang digarap dengan sangat menarik menjadikan Trick ‘r Treat sebagai salah satu film horror yang ‘Halloween banget’. Film ini memberikan nuansa kengerian serta menyenangkan dalam porsi berimbang. Dari segi teknis, Trick 'r Treat berhasil memadukan rangkaian gambar-gambar indah dengan pergerakan kamera yang efektif sehingga mampu membangun atmosfir mencekam serta puitis dalam satu sajian yang sangat sayang untuk dilewatkan. Silakan dapatkan filmnya di sini.

6. Here Comes the Devil

Ini adalah sebuah film horror/suspense asal Mexico yang di luar dugaan saya ternyata cukup layak simak. Meskipun dikemas dengan gaya yang sepintas terkesan ‘murahan’, Here Comes the Devil terbukti memiliki kekuatan yang cukup besar sebagai film horror. Cerita berfokus pada pasangan suami istri muda yang kehilangan kedua anak mereka pada saat bertamasya. Singkat kata, pihak berwajib berhasil menemukan kedua anak tersebut dan mengembalikan mereka kepada kedua orangtuanya. Beberapa hari setelah kejadian tersebut, sang ibu mulai menyadari keanehan-keanehan yang ditunjukkan oleh kedua anaknya. Kedua anak tersebut terkesan ‘berbeda’. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Here Comes the Devil lebih berfokus pada misteri serta atmosfir mencekam. Mungkin tidak terlalu mengerikan sebagai film dengan genre horror. Meski demikian, plot yang ditampilkan dalam film ini cukup menarik untuk diikuti. Ada sedikit unsur sex/nudity serta gory, namun kedua hal tersebut bukanlah jualan utama film ini. Ending film cukup mengejutkan meskipun tergolong agak standar untuk film bergenre horror. Jika kalian mencari alternatif film horror dengan nuansa yang sedikit ‘aneh’ ala b-movie cult era 70an atau 80an, film ini layak kalian jadikan pilihan. Kalian bisa mendapatkan film ini di sini.

Demikianlah keenam film yang saya rekomendasikan untuk menemani kalian pada perayaan Halloween tahun ini. Oya, format tulisan seperti ini mungkin akan muncul kembali di lain waktu dengan tema-tema khusus lainnya. Ya udah gitu aja. Hhe…


Minggu, 12 Oktober 2014

Frank


Extraordinary movie deserves extraordinary review. So here it is. In 140 characters or less...

pseuDony @dony_iswara - 3h
1. Frank adala sala satu hal paling ter-holy-shit yang terjadi dalam kehidupan saya seminggu terakhir. Film ini berhasil menggugah jiwa seni

pseuDony @dony_iswara - 3h
2. berbicara tentang seni yang (((art))), Frank mencoba untuk melangkah ke titik yang mungkin bisa dikatakan cukup fresh. Brilian. Inofative

pseuDony @dony_iswara - 3h
3. sekilas, plot Frank mungkin akan terasa biasa saja. Cuma sekumpulan orang yang mencoba untuk membuat musik dan berharap orang lain ikut m

pseuDony @dony_iswara - 3h
8. namun bila ditilik lebi mendalam, Frank mencoba menggasak konsep kekinian yang mungkin suda terlalu kekini kinian sehingga tida lagi menj

pseuDony @dony_iswara - 3h
13. adala Jon, seorang pemuda pekerja kantoran dengan kehidupan yang suram namun senang mencipta lagu yang (sayangnya) ‘jelek’ dan tida pern

pseuDony @dony_iswara - 3h
14. Jon sangat yakin bahwa dia ‘berbakat’ dalam musik. Namun kenyataan berkata lain. Kenyataan berkata, “Jon! Cuci kaki, minum susu, lalu ti

pseuDony @dony_iswara - 3h
34. hingga akhirnya Jon bertemu dengan sebua band eksentrique nan eksperimentique bernama "Soronprfbs". Adapun Soronprfbs memiliki empat ora

pseuDony @dony_iswara - 3h
42. ada Clara, semacam pemain instrumen synthesizer dan efek efek ane. Karakter Clara sedikit bossy, songong, terkadang neurotique yang mana

pseuDony @dony_iswara - 4h
61. lalu ada duet france bernama Baraque dan Nana yang masing masing bermain gitar dan drum. Kedua pasangan ini memiliki porsi yang cukup si

pseuDony @dony_iswara - 4h
70. dan tentu saja ada Frank, pemimpin gerombolan. Sesosok karakter yang enigmatic, artsy, tida terdefinisikan, spontaneous, kekanakan, mist

pseuDony @dony_iswara - 4h
71. band ini dibimbing ole seorang manager bernama Don, yang sangat memuji Frank sebagai sala satu keajaiban musical abad ini dan bersobsesi

pseuDony @dony_iswara - 4h
72. Jon ditarik bergabung dengan Soronprfbs sebagai kebordis setela kibordis sebelumnya mencoba bunu diri dengan menenggelamkan diri ke laut

pseuDony @dony_iswara - 4h
88. awalnya Jon susah beradaptasi dengan personil Soronprfbs yang sangat eksentric dan artsee. Namun berkat ketabahan dan kepercayaan diriny

pseuDony @dony_iswara - 4h
89. Merekapun mulai merekam album baru di sebua pondok di tenga hutan. Proses kreatif berjalan cukup alot layaknya daging qurban sisa dua mi

pseuDony @dony_iswara - 4h
94. selama proses penggarapan album, Jon mulai mengenal personil lain secara lebi mendalam, terutama Clara dan Frank. Jon juga merekam prose

pseuDony @dony_iswara - 4h
105. rekaman proses rekaman tersebut diunggah ke youtube dan mendapat ‘banyak’ hits. Jon termotivasi. Dia ingin membuat Soronprfbs terkenal,

pseuDony @dony_iswara - 4h
110. ternyata ‘niat baik’ Jon tida bisa berjalan mulus. Ada sesuatu yang kurang pas. Nasib band pun dipertaruhkan. Sejauh mana Jon akan meng

pseuDony @dony_iswara - 4h
129. secara garis besar, Frank bercerita tentang musik dan obsesi manusia terhadap musik, dalam hal ini ‘anak band’. Soronprfbs adala band e

pseuDony @dony_iswara - 4h
130. layaknya film tentang band, Frank dipenuhi dengan lagu lagu dari Soronprfbs yang tida hanya unik, artsy, namun juga sangat estetis bagi

pseuDony @dony_iswara - 4h
133. tida berlebihan bila musik disebut sebagai kekuatan terbesar dalam film ini. meski demikian, aspek teknis lainnya juga digarap dengan b

pseuDony @dony_iswara - 4h
143. komposisi gambar, palet warna, pencahayaan, pergerakan kamera, sudut pengambilan gambar, semuanya tercipta dengan indah bagai rumput te

pseuDony @dony_iswara - 4h
149. selain musik, fokus utama film ini tentu saja karakter Frank yang begitu memorable. Intonasi bicara serta gesture tokoh ini mampu membu

pseuDony @dony_iswara - 4h
167. karakter Frank bagaikan oase di padang pasir, bagai sekeping toblerone dalam martabak, bagaikan angin segar di blantika musik Indonesia

pseuDony @dony_iswara - 4h
213. karakter Jon dan Clara pun tida kalah pentingnya. In fact, bahkan kedua orang prancis itu juga memiliki andil penting dalam plot film i

pseuDony @dony_iswara - 4h
266. kemasan filmpun ditampilkan dengan sangat menarik. Bagaikan sepeda roda tiga yang terbuat dari kulit rusa. Frank disajikan dengan alur

pseuDony @dony_iswara - 4h
291. ada banyak momen humor kering atau lelucon awkward atau potongan dialog wtf atau adegan yang fak fak fak dalam Frank yang kesemuanya me

pseuDony @dony_iswara - 4h
390. intinya, bila kalian menyukai musik yang katanya eksperimental, atau suka dengan karakter karakter eksentrik, Frank sangat saya rekomen

pseuDony @dony_iswara - 4h
5625. demikian kultweed saya mengenai standar kekinian dalam bermusik: sebua telaah dengan sudut pandang yadda yadda bla bla bla wasweswos…

pseuDony @dony_iswara - 4h
77782019. silakan dapatkan film ini di sini…

Senin, 08 September 2014

Beginners

Tidak banyak film yang bisa menyita perhatian saya mulai dari menit pertama. Beginners adalah salah satunya. Film drama romance ini hadir dengan gaya sederhana yang sangat menyenangkan untuk disimak, setidaknya bagi saya. Mungkin karena kesan yang mendalam inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk membuat semacam review mengenai film ini setelah kemarin malam saya menonton film ini kembali untuk keenam kalinya lalu paginya saya mendownload album soundtracknya. Illegally, of course.
Ada tiga tokoh utama di film ini. Ada Oliver Fields, seorang ilustrator berusia 38 tahun dengan kehidupan yang terkesan hambar. Lalu ada Hal Fields, ayah kandung dari Oliver, seorang pria tua yang mengidap kanker dan memiliki kekasih bernama Andy. Lalu ada Anna, gadis cantik yang menjadi love interest Oliver.
Now, premis film ini sebetulnya sangat sederhana. Oliver adalah tipe laki-laki yang terkesan kaku. Mungkin karena masa kecilnya yang 'kurang bahagia'. Tapi dia tidak terkesan freak atau nerd. Hanya sedikit murung. Meski demikian, Oliver sangat mencintai ayahnya, Hal, yang mengaku bahwa dia gay setelah istrinya yang juga ibu Oliver meninggal dunia. Oliver tidak keberatan dengan keputusan ayahnya. Hal lalu mulai menjalani hubungan dengan Andy yang jauh lebih muda usianya ketimbang dirinya. Lalu kemudian Hal divonis mengidap kanker. Oliver semakin murung. Di sisi lain, Oliver terkesan mengagumi hubungan antara ayahnya dengan Andy. Cara Oliver melihat kemesraan antara ayahnya dengan Andy terkadang terkesan agak desperate. Hingga akhirnya, di suatu pesta Oliver bertemu dengan Anna, seorang gadis yang sebenarnya sama murungnya, namun di saat yang bersamaan dapat membuat Oliver menjadi sedikit 'hidup'. Hal akhirnya meninggal dunia. Hubungan Oliver dengan Anna pun mulai mengalami sedikit masalah. Oliver sendiri harus berjuang mengatasi 'masalah'nya selepas kematian Hal, tetap menjalani hidup, dan berusaha untuk melanjutkan hubungannya dengan Anna.
Beginners adalah film kecil yang digarap dengan begitu apik. Film ini mencoba menyajikan fragmen kehidupan secara sederhana. Sedikit membosankan memang, karena mungkin begitulah kehidupan, membosankan, tanpa adanya hal-hal fantastis. Namun, di sisi lain, Beginners juga mencoba untuk menunjukkan bahwa justru hal-hal kecil yang sesungguhnya bisa membuat kehidupan layak untuk dijalani, dinikmati, diperjuangkan. Hal ini bisa dilihat dari karakter Andy serta beberapa scene yang melibatkan Anna dan Oliver. Judul film inipun sarat akan makna. Bahwa betapa setiap dari kita sesungguhnya hanyalah pemula dalam kehidupan dan cinta. Ok. Saya mulai terkesan terlalu serius.
Anyway, kekuatan terbesar Beginners adalah penyajiannya. Ada beberapa bagian di mana Oliver akan menjelaskan sesuatu secara deskriptif. Dan hal ini sangat menarik bagi saya. Gambar-gambar yang diciptakan Oliver pun tak kalah menariknya dan bisa menjadi elemen penting dalam film ini, meskipun tentu saja porsinya sangat kecil. Begitulah. Film ini memang sarat akan hal-hal remeh yang anehnya sangat menarik bagi saya. Kegiatan membuat graffiti yang dilakukan Oliver bersama temannya pada suatu malam, misalnya. Atau 'ceramah' Hal mengenai singa dan jerapah. Hal-hal remeh. Namun berkesan sangat mendalam.
Akting serta penokohan sangat solid. Chemistry bisa terbangun dengan sangat lugas, baik antara Oliver dengan Hal, maupun antara Oliver dengan Anna. Oya, ada juga satu karakter penting dalam film ini. Seekor anjing kecil bernama Arthur.
Artistik dan tata visual film inipun sangat memuaskan. Beberapa scene ditampilkan dengan penggunaan cahaya, pemilihan warna, serta framing yang sangat tepat. Gambar-gambar di film ini saya nilai sudah cukup berhasil untuk membangun nuansa intim serta kedekatan antar karakter. Demikian juga untuk membangun atmosfir film secara keseluruhan.
Score dan musik pun hadir tanpa cela. Efektif dan bisa menyatu dengan beberapa scene dalam film secara natural.   
Finally, Beginners is all about love. Cinta Hal pada Andy, cinta Andy pada Hal, cinta Hal pada Oliver, cinta Oliver pada Hal, cinta Oliver pada Anna, cinta Anna pada Oliver, cinta Oliver pada Arthur, dan cinta Arthur pada Oliver. Jika kalian menyukai Punch-Drunk Love, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, atau Greenberg, Beginners sangat saya rekomendasikan sebagai tontonan. Sekitar 20 menit pertama film ini saya tak hentinya tersenyum kecil. This movie is sweet, brilliant, simple, and also very strong as well. This is what good movie looked like. Silakan dapatkan filmnya di sini.